Tentang Warsawa

Sebenarnya saya sudah berniat bikin tulisan ini sejak satu minggu yang lalu, sayangnya, saya selalu kedinginan. Iya benar, kedinginan. Saya yang suka menulis di kamar dengan jendela terbuka, menatap rimbunan dedaunan yang mulai berubah warna, langit yang kelabu (jarang sekali langit biru di sini), dengan barisan burung-burung yang terbang berkelompok. Sesekali, ada satu burung yang hinggap di dekat jendela kamar saya. Sayang, sampai detik ini, saya belum kesampaian buat motret tu burung dari dekat. Nah, suasananya sih memang mendukung sekali untuk menulis, sayangnya, jemari saya jadi kaku dan agak ribet kalau dipake menekan keyboard laptop. Akibatnya, sering kali saya malah balik lagi ngabur ke dalam selimut yang hangat.

Karena no picture = hoax, jadi saya ngga akan membahas betapa cantiknya Warsaw, yang itu lain kali aja, kalo saya sudah ada waktu buat mindah foto-foto ke laptop. Kali ini, saya akan bercerita tentang orang-orangnya dan suasana Warsawa yang mungkin tidak akan bisa ditangkap kamera. 

1. Untuk waktu Warsawa, jam di komputer, hp, sampai jam di dalam bus atau trem menunjukan waktu yang sama, bahkan sampai ke menit-menitnya. Keren sekali. Bisa jadi karena tiket bus di sini ada yang dijual 20 menit atau 40 menit, makanya semua jam sama dan konsisten. Kaget sekali lho pas tahu bahwa jam tangan saya (yang saya set sama dengan jam di laptop) ternyata juga menunjukan waktu yang sama dengan jam di hp dan bus. Lha ini beda sekali dengan saya di Indonesia, meskipun tidak berbeda jauh, namun jam tangan, jam dinding kamar, jam hp, jam di bagian administrasi kampus, jam di kelas seringkali berbeda, meskipun hanya beberapa menit. 

2. Ada kata dalam Bahasa Polandia yang sangat penting bagi saya yang sama dengan kata dalam Bahasa Indonesia, meskipun artinya berbeda. Kata itu adalah "Kantor". Di Polish, it means money changer or exchange. In bahasa, it means office.

3. Orang-orang Polandia ngga terbuka urusan pribadi. Pernah nih, guru Polish saya dapat telepon di kelas dan dia terpaksa mengangkat telepon itu karena anaknya sakit dan harus ke dokter. Si guru tersebut cuma bilang bahwa anaknya sakit dan harus ke dokter, tanpa penjelasan lebih lanjut sakitnya apa, anaknya umur berapa, dan bagaimana cerita selengkapnya. Ini beda sekali dengan salah satu dosen Bahasa Inggris saya yang dulu mengalami hal serupa, dan pada akhirnya malah curhat tentang anaknya yang sakit di kelas. 

 4. Tahu kartun The Penguins of Madagascar? Ternyata, Kowalski si penguin itu berasal dari Polandia. Atau yang memberi nama adalah orang Polandia. Nama Kowalski adalah nama pasaran di sini. 

5. Hangover di kelas itu biasa. Anak-anak Erasmus emang sering ngadain party-party atau pub crawl gitu sih, bahkan ada kelompok yang pesta tiap hari. Jadi jangan kaget kalo malam-malam di jalan ketemu orang mabuk dan rasanya pernah lihat orang-orang itu.

6. Sitting on the same table with the guy who looked really like Clark Kent in a pub was not as great as what it was look like. I ended up reading Kafka in my cellphone. 
I prefer having lunch with an Maian guy from Peru who have lived for more than 15 years in the Zakopane mountain, southern Poland in a small Vietnamese restaurant.

7. Banyak cowok cakep di Warsaw. Minggu pertama, kami (rombongan dari Indonesia yang berjumlah 5 orang cewek dan 2 cowok) ini sibuk nontonin (kata yang tepat memang 'nontonin', bukan lagi melihat, memandang, apalagi melirik ) cowok-cowok cakep di jalan, bus, mall, sampai kampus bahkan sampai ke dalam kelas. Sempat juga baca-baca majalah fashion lokal, dan ternyata, diamini bersama bahwa cowok-cowok di pinggir-pinggir jalan Warsaw ini jauh lebih cakep dibandingkan dengan aktor-aktor atau model-model terkenal. Ajaibnya lagi, cowok-cowok cakep ini punah di minggu kedua kami. Entah karena memang sudah benar-benar tidak ada, kami yang udah males merhatiin, atau standar kami yang meningkat. Ngga tahu. Ini misteri.

8. Saya punya hobi baru di sini, mandi. 2 kali sehari. Kalo di Bandung atau Yogya mandi paling sehari sekali, sebelum kuliah.  Kalo dipikir lagi emang menjijikan. Bahkan dulu pas mau KKN, ada teman yang komentar,"Pas banget kamu dapat lokasi di Gunung Kidul. Di sana susah air. Pas kalo buat kamu yang jarang mandi." Dulu sih alasannya dingin, lha di sini lebih dingin, tapi saya bisa mandi air hangat, meski di kamar mandi bersama. Oke lah.

9. Bahasa Polandia itu bahasa yang tidak jelas dan sulit dipelajari. Habis banyak perkecualian. Aturannya jelas sih, tapi banyak perkecualian untuk kasus-kasus tertentu. Jadi bukan hanya karena banyak konsonan dalam satu kata.

10. Banyak orang nganggur di Warsawa. Jadi kalo saya main ke taman, pasti banyak orang yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan, jogging, sepedaan, atau gandengan tangan berdua. Saya mikir, di Bandung juga banyak taman (walau tamannya kecil-kecil), tapi taman-taman di Bandung cenderung sepi. Ngga banyak juga sih orang-orang di Bandung, Yogya, atau bahkan Ngawi yang nganggur banget semacam itu sampai sempat-sempatnya jalan-jalan ke taman. Atau memang karena tempatnya yang tidak mendukung. Ngga tahu deh. 


Segini dulu deh. Sambungan internet saya mulai melambat nih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar