Museum Pos Indonesia : Masa Kini yang Jadi Sejarah

Lebih dari satu bulan yang lalu, saya mengunjungi Museum Pos Indonesia di Bandung. Sebenarnya, saya berniat untuk berkunjung ke sana akhir tahun lalu, sayangnya pada waktu itu museum masih dalam tahap renovasi sehingga ditutup untuk pengunjung. Kedatangan saya pada waktu itu sebenarnya tanpa sengaja, awalnya, saya berniat membeli kartu pos. Kecewa karena mereka hanya menjual kartu pos yang biasa saja (oleh petugas di sana, saya disarankan untuk ke kantor pos di Jl. Asia Afrika yang banyak menjual kartu pos bergambar), saya pun mampir sekalian ke Museum Pos Indonesia. 

Apabila dibandingkan dengan Museum Geologi yang tak jauh letaknya, Museum Pos Indonesia cukup tersembunyi. Bahkan teman saya yang lama tinggal di Bandung pun tak tahu keberadaan museum ini. Dia hanya mengenal bangunan tersebut sebagai kantor pos saja. Memang sih bangunan museum ini berada satu kompleks dengan kantor pos dan juga kantor pegawai PT Pos Indonesia. Bangunan yang terletak di Jl. Cilaki 73 Bandung 40115 ini diapit oleh gedung sate dan Taman Lansia. 

Kompleks bangunan Museum Pos Indonesia

Awal mula masuk ke gedung ini, saya agak sanksi, saya pikir museumnya jelek dan pengap. Maklum lah biaya masuknya gratis gitu dan sewaktu mengisi buku tamu, rata-rata jumlah pengunjung per hari kurang dari sepuluh. Tapi ternyata, saya mendapat kejutan. Museumnya bagus banget. Pas awal masuk, saya diberi MP3, jadi selama berkeliling museum, saya cukup mendengarkan penjelasan mengenai benda-benda yang dipajang lewat earphone. Asyiknya lagi, jika kurang jelas, penjelasan bisa diputar ulang dan lagu-lagu yang bagus mengiringi penjelasan yang diberikan. Karena sendirian di dalam, sempat lho pas denger lagu-lagu yang asyik, beberapa kali saya nari-nari di dalam museum. Untunglah saya sadar dan segera mencari letak kamera pengawas. Malu banget.




Benda pertama yang menyambut saat masuk ke dalam museum. 
Ingat ngga dulu banget ada film semacam super hero dari Jepang gitu yang musuhnya monster kotak pos kayak gini.


Jenis sepeda yang digunakan para pak pos dari masa ke masa.




Diorama ini menunjukan salah satu alasan utama saya ingin jadi filatelis. Rasa bahagia pas dapat surat. 
Ingat sekali saya, surat pribadi terakhir yang saya terima dari pak pos itu pas saya SMP, surat dari teman yang ketemu sewaktu lomba antar SMP.


Salah satu kartu pos dan prangko edisi khusus, 50 Tahun UGM. Hehehe..... Bangga juga saya jadi anggota Kagama. Yang lain ada edisi Ekonomi Hijau, Flora Fauna Indonesia, dan lain-lain. 


 Prangko emas edisi Bung Hatta. Pingin punya yang ini nih, tapi kok ya mahal. 
Yang lain ada edisi Bung Karno dan Ibu Tien Soeharto.


 The Black Penny ; Prangko pertama di dunia yang dibuat di Inggris. 
Awalnya, biaya pos dibebankan kepada di penerima. Namun karena ada wanita tua yang menerima surat namun tidak mampu membayar biaya pos, akhirnya dibuatlah prangko sebagai biaya pos.


Foto Mas Soeharto, pimpinan pertama Pos Indonesia yang menghilang diculik Belanda sewaktu Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta (saya sudah coba foto beberapa kali, namun tetap saja hasilnya jelek. Maklum, kamera hp).
Membaca kalimat "Aku teruskan pengabdianmu" ini seperti menjawab kata-kata The Grand Old Man, K.H. Ahmad Dahlan yang banyak ditulis di gedung-gedung Muhammadiyah di Yogyakarta, "Aku titipkan Muhammadiyah padamu".


Beberapa surat raja-raja nusantara yang ditulis dalam Bahasa Arab, Melayu, maupun bahasa lokal daerah.


Bis Surat yang dulu digunakan di Timor Timur.


Bis surat pada masa penjajahan Belanda.


Lukisan proses pengiriman surat, dari awal sampai surat diterima.
Nb : Perhatikan baik-baik lukisan ini karena ada kejutan manis di dalamnya. Sayangnya kamera saya tidak bisa menangkap kejutan di dalamnya. Jadi kalau mau tahu, silahkan datang langsung dan amati sendiri. : D

Jadi, kalo ada waktu, main-main lah ke Museum Pos Indonesia. Biaya masuknya gratis. Lalu karena pengunjungnya jadi bebas mau ngapain aja di dalamnya. Yah, ngga bebas-bebas amat sih, tapi kalo mau nari-nari sambil berdendang ria kayak saya sih sepertinya ngga masalah. Museum ini buka Senin-Jumat jam 09.00-16.00 WIB dan Sabtu jam 09.00-13.00 WIB. Jangan khawatir, mereka tertib soal waktu kok, saya aja kemarin datang Jumat hampir jam 3 sore dan masih diijinkan masuk sama pihak museum. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar