Day #3 Rotterdam ; Old vs Modern

Merry Christmas!!!!

Ini malam Natal. Saya tidur cepet. Bangun tengah malam. Akhirnya saya datang ke bagian bar yang terbuka yang juga berfungsi jadi tempat sarapan juga. Malam itu, saya memutuskan untuk mengisi baterei handphone, kamera, dan juga power bank saya.  Persiapan buat perjalanan panjang besok. Habis ngga ada colokan listrik di kamar. Sambil nungguin, saya ngenet di komputer umum di sana. Saya googling petunjuk aktivasi internet di hp saya. Persiapan kalau di Den Haag ngga segera dapat peta, bisa make google maps. Lagi pula, kalau jarak hostel saya ngga jauh dari stasiun, saya bisa jalan kaki saja.

Pas di sinilah, saya disapa oleh seorang mbak-mbak yang pake Bahasa Indonesia. Kaget juga sih, soale saya sudah tinggal di sini dari kemarin. Akhirnya si mbak ini cerita kalo orang tuanya berasal dari Maluku tapi dia udah tinggal di Belanda dari kecil. Dia sering juga liburan ke Indonesia. Dia bahkan sudah berniat menghabiskan hari tuanya di Maluku, setelah anak-anaknya mapan di Belanda. Si mbak ini tinggal di kota kecil di dekat Rotterdam. Dia di Rotterdam untuk merawat ayahnya yang masuk rumah sakit. Si mbak ini tinggal di kamar yang lebih kecil, yang pada awalnya juga ditawarkan kepada saya, kamar yang tenang, namun saya lebih memilih kamar yang lebih hangat. 

Akhirnya malam itu, saya malah ngobrol-ngobrol sama si mbak, dua orang Italian yang mabuk dan seorang Belanda yang keren abis. Salah seorang Italian itu ternyata bekerja sebagai Chef di Restoran Italia di Den Haag. Untung lah si mbak ini bisa Bahasa Italia, jadi dia menerangkan perkataan dua orang Italia kepada saya. Tingkah mereka lucu. Mereka sempat bentrok gitu juga sama penjaga hostel karena membiarkan pintu depan terbuka gara-gara mereka mau merokok di luar. Lalu datang lah seorang mas-mas Belanda yang saya bilang keren tadi. Kenapa keren? Dia sangat cekatan. Dia juga ngasih rekomendasi tempat-tempat oke gitu di Den Haag. Lalu karena sebelumnya dua orang Italia yang mabuk itu menyebut orang Belanda itu crazy people, jadi lah saya nanya, kenapa orang Belanda jadi crazy people on the Queen's day. Jawabanya cuma, "Yes, we're crazy people. Ohhh, I really don't want to talk about it in English." Saya ngga ngerti apa maksudnya. Nanti saja saya tanyakan kepada teman-teman saya yang  tinggal di Belanda, apa yang terjadi di Queen's day. Lalu saya nanya, "Now, you have a King. Do Dutch people have plan to celebrate King's day?" Jawabannnya,"Yes, now we have King. Actually, we prefer his wife, Princess Maxima, to lead this country." Saya ngakak. Dia melanjutkan, "His wife is more charismatic. We have queen palace in Den Haag. You have to visit it. We do not have King palace, but we have Queen Palace. That palace is really beautiful." Saya ngakak sambil mikir, "Ada masalah apa orang ini sama Willem Alexander?".

Karena situasi malam itu makin kacau, saya memutuskan untuk balik lagi ngenet sekalian posting blog. Posting terakhir tahun 2013. Sempat pula sih ditawari wine sama rokok sama si mbak. Karena pingin memasukan sesuatu ke mulut juga, akhirnya saya balik ke kamar buat ngambil cokelat yang saya bawa dari Warsaw. Setelah ngobrol sama si mbak, saya jadi makin takjub, rupanya si mbak ini menguasai 5 bahasa gitu. Iri banget! Setelah baterai hp, kamera, dan power bank saya penuh, sudah jam 3 pagi dan saya memutuskan untuk tidur lagi saja. Lumayan, masih bisa tidur kira-kira 4 jam lagi. 

Hari ketiga, 25 Desember 2013

Pagi ini, lagi-lagi saya ngga sarapan karena kesiangan. Mending saya makan di tram saja. Bekal roti saya masih ada kok. Akhirnya setelah beres-beres, saya check out sekalian. Sambil bawa koper, saya foto-foto lokasi sekitar hostel yang cantik. Lalu saya segera menuju ke tram stop dan naik tram. Tujuan utama saya hari itu adalah Erasmus University. Setelah salah arah di tram, akhirnya sampai juga saya di Erasmus University. Ternyata ini adalah tempat tempat pemberhentian terakhir untuk tram Nomor 7. 

Awal pas mau masuk ke universitasnya, sempat takut gitu soalnya ada penjaganya. Lagian ini kan Hari Natal, ngapain ke kampus kalo ngga kurang kerjaan. Rupanya universitas ini sedang dalam tahap renovasi gitu. Tempatnya sangat modern, apalagi School of Management-nya. 

Kompleks bangunan Rotterdam School of Management, Erasmus University

Akhirnya karena ngga puas sama Rotterdam School of Management, saya berniat untuk mengitari kompleks Erasmus University. Habis, ngga mungkin kan bangunan modern semacam ini ada di jaman Bung Hatta. Ini jelas bukan ruang kelas Bung Hatta. Yah, saya juga ngga segitu-gitu amat sih, tapi kan setidaknya ada satu bagian yang masih ada. Tapi ini tuh terlalu modern. 

Saya akhirnya masuk ke kompleks Erasmus University. Kesan pertama waktu masuk, tempatnya mirip dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Ada sungai yang mengalir di depan gerbang universitas. Sambil menyeret koper, saya masuk ke kompleks universitas. Tempatnya luas dan cukup modern. Lagi-lagi, saya nemu beberapa kolam air di dalam kompleks universitas. Saya juga bertemu beberapa orang yang naik sepeda di dalam kompleks universitas. Bangunannya cantik. 



Kompleks Erasmus University

Ternyata bangunan modern itu hanya berada di bagian luar. Masuk ke dalam kompleks universitas, di bagian ujung saya juga menemukan patung Desiderius Erasmus. Sepertinya ini adalah kawasan universitas yang lama. Bangunan-bangunan di sekitar lokasi patung juga terlihat tua. Mungkin dulu di tempat inilah Bung Hatta menuntut ilmu.

Patung Erasmus

Bangunan tua di kompleks universitas

Sambil jalan, saya nemu penunjuk arah yang menyebutkan adanya Hatta Building. Saya langsung terobsesi mencari keberadaan Hatta Building ini. Saya akhirnya menelusuri petunjuk arah. Saya menemukan semua gedung, mulai dari gedung N, R, Q, dan lainnya. Hatta Building? Ngga ada. Saya bahkan sampai masuk ke jalan-jalan tikus yang kecil. Ngga ada apa pun, kecuali saya mencium aroma Indomie rasa ayam bawang dari salah satu dapur asrama mahasiswa di sana. Pingin banget. Akhirnya saya duduk di kursi di pinggir salah satu kolam. Makan bekal roti sambil mikir di mana keberadaan Hatta Building yang misterius ini. Sempat pula berprasangka buruk jangan-jangan Hatta Building itu gedung (atau mungkin lebih tepat disebut gubuk) reyot yang berada diantara gedung-gedung yang lain. Itu satu-satunya gedung yang ngga punya papan nama sih.

Setelah hampir dua jam mondar-mandir ngga tahu arah, akhirnya saya nanya pada salah satu orang yang lewat naik sepeda. Saya putus asa nyari sendiri. Rupanya si mas ini juga ngga tahu. Tapi saya juga dibantuin sih, dianterin ke bagian depan kompleks yang menurut dia lokasi keberadaan Hatta Building ini. Saya bingung, apa saya menyerah saja nih. Tapi kalo menyerah kok rasanya berat. Lalu saya ingat kalau saya punya hp yang sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Saya langsung saja tanya mbah google. Akhirnya, setelah beberapa kali nyasar ke situs yang salah, saya nemu  gambar bentuk fisik Hatta Building ini. 

Hatta Building ini adalah bangunan yang sudah saya lewati beberapa kali. Bangunannya berbeda dari yang lain dan merupakan satu dari sedikit gedung tinggi yang ada di kompleks universitas. Bangunannya cantik. Hatta Building ini berfungsi sebagai asrama mahasiswa. Jadi di mana pun kamu berada, asal masih di dalam kompleks universitas, Hatta Building ini pasti akan kelihatan. Dari luar, asrama Hatta Building ini jauh lebih bagus dari pada asrama saya. Ngga tahu dalamnya. 


Hatta Building

Setelah loncat-loncat sambil nari-nari habis nemu Hatta Building, saya lanjut menjelajah komplek universitas ini. Kalo dari luar terlihat seperti UMM, bagian dalam universitas ini seperti Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM sebelum direnovasi (renovasi yang melibatkan pembangunan Pertamina Tower itu). Lalu inget juga, kan dulu Bung Hatta juga mengajar di FEB UGM, jadi mungkin aja desain gedung FEB itu juga ide beliau. 

Oh ya, sambil nunggu tram di tempat yang indah sekali. Ada deretan pepohonan gitu disekelilingnya. Pada saat itu aja indah, gimana coba pas musim panas atau musim gugur. Pingin balik lagi deh nanti. Oh ya, pas itu saya juga nemu satu rumah yang bagus banget. Rumahnya punya sungai pribadi gitu. Dulu pas lihat rumah kayak gini di salah satu Film Belanda, sempat mikir,"Ngga mungkin ah, masa punya sungai pribadi gini. Pasti cuma lokasi syuting aja."

Ini rumah yang saya bilang, yang ternyata banyak yang kayak gini di Belanda.
Rotterdam masih siang. Dari pada langsung ke Den Haag, saya memutuskan untuk mampir ke Veerhaven, pelabuhan lama Rotterdam. Lagi pula, dari Erasmus University saya ngga perlu ganti tram kalo mau ke Veerhaven. Tahu ngga apa yang terjadi? Veerhaven adalah tempat paling indah di Rotterdam. Ini adalah pelabuhan dengan gedung-gedung tua di sekitarnya. Lalu ada banyak kapal dengan beraneka bentuk yang berlabuh. Belum lagi pepohonan dan patung-patung yang menjadi hiasan di tepi pelabuhan. Keseluruhan, indah sekali. Saya sempat menyusuri pelabuhan ini dari sisi ke sisi gitu. 

Veerhaven

Di Veerhaven juga, saya dapat bonus. Saya ikutan boat tour di Veerhaven. Biayanya cuma 3 Euro, saya diantar dari Veerhaven ke kawasan Hotel New York yang ada di seberang sungai. Di sini, saya bertemu dengan pasangan Belanda yang sedang berlibur gitu. Mereka lah yang meyakinkan saya untuk ikutan tur ini. Pengalaman naik boat-nya asyik sekali. Kawasan Hotel New York ini juga indah.

Ini foto dari dalam boat.

Dari Hotel New York ini saya akhirnya jalan menuju tram stop terdekat. Di tengah perjalanan ini lah saya menemukan gudang yang dulunya digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang yang berasal dari Indonesia. Ada blok yang bernama Java, Sulawesi, Borneo, dan lainnya. Mungkin di Rotterdam ini lah barang-barang dari tanah air pertama kali dibongkar muat. Lagi pula, gudang itu bersebelahan dengan salah satu stasiun.  Sedih juga nih membayangkan Bung Hatta yang pada saat itu pasti melihat kekayaan negaranya diambil negara lain. Pasti tempat ini jadi salah satu bangunan tinggi yang menjulang dan ramai. Sekarang bangunan gudang itu tertutup oleh gedung-gedung pencakar langit lainnya. Bahkan bangunan gudang itu mau dirobohkan untuk pembangunan De Rotterdam. Kasihan.

Ini gudang Hindia Belanda yang saya bilang.

Sepanjang perjalanan saya ke Rotterdam ini, saya menemukan banyak sekali bangunan-bangunan modern di Rotterdam yang bentuknya unik. Saya juga menemukan butik yang bentuknya seperti bola. Lalu ada juga bangunan yang di bagian atasnya ada patung yang terlihat dari bawah seperti ada orang yang niat terjun dari atap gedung. Sepertinya kota ini sangat maju di bidang arsitektur. Kotanya juga tertata dan indah. Modern, tapi cantik. Ramai, tapi elegan. 

Salah satu bangunan yang unik, Floating Pavilion.

Yang ini mobil terjun.

Lalu, orang-orang di Rotterdam juga sangat plural. Saya menemukan banyak orang dengan warna kulit yang berbeda. Saya juga banyak menemukan perempuan berkerudung di sini. Lalu, saya juga pernah sekali sholat di kereta, dan petugas pemeriksa tiket menunggu saya selesai sholat, baru menanyakan tiket saya. Indah sekali kan?

Oh ya, hampir lupa ini kan Hari Natal. Jadi saya harus mencari patung Santa Claus yang ada di Rotterdam. Emang ada gitu? Yup, patung Santa Claus ini dibuat oleh seniman Amerika, Paul McCarthy. Patung Santa Claus yang juga dikenal sebagai 'the Buttplug Gnome' ini merupakan bagian dari Westersingel sculpture route yang membentang dari Kruiskade sampai Westzeedijk.

Sinterklas di perempatan jalan.
Btw, ngelihat foto ini kok jadi keinget Semar, salah satu karakter punokawan di wayang. Sama-sama berpantat besar.
Sore menjelang malamnya, saya langsung memutuskan untuk naik metro ke Den Haag. Untung lah two-day-ticket yang saya beli juga berlaku untuk metro Rotterdam-Den Haag, jadi saya ngga perlu beli tiket lagi. Dan ternyata, perjalanan dari Rotterdam ke Den Haag ini hanya sekitar 15 menit. Cepet banget. Yah, tapi tetap saja sih, saya nyampe Den Haag sudah gelap. 

Kiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar