Day #2 Rotterdam ; The City of Hatta and Erasmus

Pas bilang bahwa tujuan utama saya ke Belanda adalah Rotterdam, teman-teman saya pada heran. "Ngapain kamu ke Rotterdam. Di Rotterdam itu ngga ada apa-apa. Rotterdam itu metropolitan. Mending kamu ke Leiden aja lebih cantik atau Amsterdam yang lebih ramai." Ngga mau. Saya keukeuh mau ke Rotterdam. Kenapa? Karena dua orang yang spesial dalam hidup saya menghabiskan sebagian waktu hidupnya di Rotterdam. Yang pertama, Mohammad Hatta yang menghabiskan sebelas tahun hidupnya di Rotterdam untuk belajar dagang (Iya, di bukunya pun Bung Hatta juga menyebut dagang) di Rotterdam School of Management, Erasmus University, Rotterdam. Kedua, Desiderius Erasmus, seorang filsuf dan pembelajar yang lahir di Rotterdam, yang namanya diabadikan jadi nama beasiswa yang saya peroleh. Paling ngga saya ingin menapak kembali jejak-jejak kedua orang itu. Jadi Rotterdam adalah kota pertama di Belanda yang harus saya kunjungi. 

Hari kedua, 24 Desember 2013

Bangun pagi, saya segera mandi dan siap-siap buat pergi ke Erasmus bridge. Erasmus bridge ini didesain oleh arsitek Ben van Berkel tahun 1996 dan menjadi ikon Kota Rotterdam. Jembatan sepanjang 800 meter ini berada di Maas River dan menghubungkan Rotterdam bagian utara dan selatan. Jembatan ini juga dijuluki "The Swan". Pas turun dari tram buat foto-foto tuh jembatan, saya sempat terbawa angin tanpa sadar gitu. Tahu-tahu sudah di pinggir sungai, mau jatuh. Angin di Belanda memang luar biasa sadis. Ngga mau melewatkan kesempatan, saya akhirnya memutuskan untuk jalan sepanjang jembatan ini dari ujung ke ujung. Agak-agak serem gitu, soalnya anginnya kencang dan jembatannya agak-agak berderak-derak. Saya takut jembatannya rubuh. Untung lah kekhawatiran saya tidak terjadi. Saya melewati jembatan dengan aman. 

Erasmus bridge di Rotterdam

 Versi mini Erasmus bridge di Madurodam

Tujuan saya selanjutnya adalah Museum Boijmans van Beuningen. Awalnya, museum ini ngga masuk daftar tempat yang harus dikunjungi. Namun karena museum ini selalu masuk top three tempat yang harus dikunjungi di Rotterdam, saya memutuskan untuk mampir hari itu. Saya memang mendahulukan tempat-tempat yang punya jam buka tertentu karena siang di Belanda sangat sebentar. Udah gitu besok hari Natal, jadi kemungkinan tempat-tempat umum bakal tutup. 

Museum Boijmans van Beuningen

Pas saya datang, museum ini belum buka. Jam buka museum ini cukup siang, yaitu jam 11 siang. Akhirnya sambil nunggu museum buka 15 menit lagi, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke sekitar situ. Pada saat itu lah saya nemu kompleks Netherlands Architecture Institute (NAI)/The New Institute yang didesain oleh arsitek Jo Coenen tahun 1993. Dari luar bangunannya sangat cantik. Entah gimana bagian dalamnya. 

Bangunan NAI

Ok, balik lagi ke Museum Boijmans van Beuningen. Nama museum ini sepertinya diabadikan dari nama donatur terbesar museum tersebut. Dari awal tahu sih kalau ini museum seni, tapi ngga nyangka aja museum ini bikin pusing. Kenapa? Karena bahkan cloack room buat nyimpen mantel dan tas pun sangat unik. Sempat masuk ke perpustakaannya gitu dan desain kursinya sangat luar biasa nyaman. Belum lagi desain bangunannya yang rumit dan unik. Oh ya, karena sepertinya memang didesain untuk ukuran bule, pernah sekali pas mau ngintip sesuatu dari lubang gitu, saya ngga nyampe. Saya sampai loncat-loncat dan diketawain beberapa bule yang lagi ngobrol. Satu orang bahkan sempat bercanda apakah saya butuh digendong biar nyampe. Malu banget.

Di museum ini, dengan memakai International Student Identity Card (ISIC), saya mendapatkan diskon 50% untuk tiket masuk museum. Sangat lumayan. Di dalam museum, ada banyak benda-benda yang tak terkira sebelumnya bisa dibuat menjadi bentuk-bentuk aneh dan luar biasa. Ada pula ruang kaca yang punya efek seribu bayangan. Lalu proyeksi dari cahaya dan air yang menjadi pemandangan malam yang indah. Belum lagi koleksi benda-benda seni seperti keramik, logam, emas, dan lainnya. Lalu tak ketinggalan lukisan-lukisan dari maestro Belanda dan asing. Di dalam museum ini, saya juga menemukan beberapa sisa-sisa lukisan Desiderius Erasmus. 

Ini kayak hantu di Film 'The Dream of Akira Kurosawa' ya?  Lupakan! Lupakan!
Malam ini saya harus tidur sendiri nih. Roommate saya belum balik.

Proyeksi yang indah kan?

Salah satu lorong yang cantik

Beberapa koleksi yang dipamerkan.

Erasmus in Rotterdam

Ada ini juga.

Pada saat itu ada pameran Kokoschka, pelukis Belanda. Saya belum pernah mendengar namanya sebelumnya. Tapi setelah melihat lukisannya dan interview mengenai dirinya, saya merasa dia keren. Impiannya adalah mendirikan sebuah institut yang bukan hanya tempat untuk belajar menggambar, namun tempat untuk belajar tentang hidup. Saya butuh banget tempat belajar semacam ini.

Ternyata, museum ini sangat luas. Keluar dari museum ini saya sangat capek. Bayangkan sudah hampir jam 2 siang. Jadi saya mengitari museum ini sekitar 3 jam. Pfyuuuhhhh.... Saya pusing. Saya ngga terlalu ngerti seni sih. Cuma saya lama di depan satu lukisan karena lukisannya indah. Atau benda-bendanya unik. Gitu doang. 

Saya berniat nyari makan dan tempat duduk buat sholat. Untungnya, di dekat museum ada warung makan Suriname. Ini berkah. Saya memang berniat untuk makan makanan Indonesia di tiap kota di Belanda. Akhirnya saya pesen Nasi Goreng Jawa. Harganya cukup mahal, sekitar 9 Euro. Tapi karena di Warsaw ngga ada, jadi ya sudah lah. Ngga tiap hari juga. Nasi gorengnya enak banget. Ada tempe-nya pula. Sudah lama ngga makan tempe. Sayang tempe-nya gosong. Ini kayak tempe yang diangetin terus-menerus gitu. Udah gitu ayamnya kayak ayam Carrefour langganan teman saya. Ngga enak. Tapi oke lah, minimal nasinya enak. Rasa Indonesia sekali. 

Begini penampakan nasi gorengnya.

Setelah kenyang, saya memutuskan untuk datang ke Da Vinci Genius's Exhibition di former Post Office, Coolsingel 42, Rotterdam. Pameran ini diadakan di beberapa kota dan pada waktu itu kebetulan di Rotterdam. Saya ngga mungkin melewatkan pameran ini dong. Pameran ini menampilkan beberapa benda yang dirakit dari gambar-gambar Da Vinci di buku catatannya, mulai dari peralatan industri, menyelam, sampai dengan peralatan perang, dan terbang. Pameran ini juga membahas secara mendalam lukisan Monalisa dan Virtruvian Man milik Da Vinci. Saya kembali mendapatkan diskon masuk dengan student card. Sayangnya diskonnya ngga terlalu besar. Saya harus bayar tiket 12 Euro dari tiket normal 16 Euro. 



 Karya-karya Da Vinci, baik lukisan maupun peralatan mekanik.

Di bekas kantor pos inilah saya melihat Rotterdam tempo dulu. Jika sebelumnya saya ngga bisa membayangkan Bung Hatta jalan-jalan di antara bangunan beton atau bahkan di Lijnban area, kawasan belanja di Rotterdam. Di kantor pos inilah saya bisa membayangkan Bung Hatta datang dengan sepedanya dan mengirimkan surat untuk keluarganya di Bukit Tinggi atau Jakarta. Manis banget. Bangunan ini kuno. Bahkan saya mencium bau masa lalu sewaktu make toilet di tempat ini. Letak toiletnya di lantai atas dan cuma satu stall gitu yang bisa dipake. Aroma masa lalunya kerasa banget.  

Lokasi museum ini juga bersebelahan dengan Rotterdam City Hall. Kawasan ini sepertinya adalah kawasan pusat kota di masa lalu. Bangunan city hall-nya tua, besar, kokoh, dan kelam gitu. Sangat berbeda dengan kawasan di sekitarnya yang sudah modern nian. Apalagi jika jalan terus ke kiri, sudah masuk ke kawasan mall yang modern. 

Former post office (depan) and city hall (belakang).

Akhirnya, karena keinginan utama untuk menyusuri jejak Bung Hatta dan Erasmus, sore itu, mengabaikan hujan deras, saya memutuskan untuk mencari perpustakaan umum Rotterdam. Bung Hatta yang hobi membaca dan punya koleksi buku luar biasa banyak itu ngga mungkin dong ngga menyambangi perpustakaan di sini. Jadi lah jalan kaki saya mencari perpustakaan kota hanya berdasar petunjuk di jalan dan juga google maps. Sayangnya, sampai di sana perpustakaan sudah tutup dan bahkan pasar tumpah di depan perpustakaannya pun sudah mulai tutup. Mana hujan lagi. 

Perpustakaan Umum Rotterdam

Di dekat perpustakaan itu lah saya menemukan Cube Houses. Cube Houses ini juga lokasi Stayokay hostel tempat saya mau menginap tapi ngga jadi karena mahal. Cube Houses ini juga masuk tempat yang harus saya kunjungi selama di Rotterdam. Bangunan ini didesain oleh Piet Bloom di kawasan yang menghubungkan Blaak dan Oude Haven. 

Cube Houses.

Capek, dingin, dan haus, rasanya pingin segera balik lagi ke hostel. Tapi waktu lihat peta, ternyata kawasan ini dekat dengan lokasi Erasmus's Statue. Dari pada balik lagi besok, saya memutuskan untuk jalan saja ke sana. Awalnya saya berfikir kalau letak Erasmus's Statue ini di kawasan belanja. Lha ramai gini dengan banyak toko-toko murah. Oh ya, harga emas di Rotterdam murah, lebih murah dari Warsaw. Cuma ngga tahu kualitas emasnya berapa karat. Balik lagi, waktu itu panduan saya, si patungnya Erasmus ini ada di dekat gereja. Jadi saya sering melihat ke atas buat mencari gereja. Pas udah ketemu, ternyata, patungnya si Erasmus ini berada di balik kawasan ramai tadi. Kayak kesepian di tengah lapangan gitu. Jalan-jalan di balik taman ini hiruk pikuk. Tapi ngga ada satu pun orang di tempat ini, kecuali saya. Iya sih, malam mulai naik. Mana hujan lagi. Rasanya jadi pingin ngasih payung saya buat si patung. Untung ngga jadi. :)

Erasmus's statue.

Habis dari Erasmus's statue, saya segera naik tram menuju ke China Town. Niatnya sih mau beli oleh-oleh khas Rotterdam gitu soale tempat ini juga masuk di leaflet panduan wisata Rotterdam. Dalam bayangan saya, China Town itu bakalan penuh toko souvenir, kedai makanan, dan ramai. Ngga tahunya, tempatnya tuh jalan. Beneran jalan yang penuh toko Cina yang menjual barang-barang biasa, bukan barang untuk wisatawan. Akhirnya saya memutuskan untuk balik lagi aja ke hostel. Tidur. 

Kiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar