Percayalah, Saya juga Bingung

"Kita ngga bisa lho terus-terusan cuma mengejar apa yang kita sukai. Kita ngga bisa lho berharap melakukan apa yang kita suka. Kita sudah dewasa. Kita harus melihat realita. Kita ngga bisa main-main terus. Jadi meski ngga menyenangkan, kadang kita mesti melakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan, bukan apa yang kita suka saja."

Seorang sahabat pernah berkata seperti itu kepada saya, beberapa tahun yang lalu. Saya lupa situasi dan kondisi kenapa sahabat saya sampai berkata seperti itu. Tapi saya ingat jelas kata-kata itu. Iya sih, dia benar. Tapi saya juga ingat kata-kata (entah Einstein atau Da Vinci) bahwa orang yang paling bahagia ialah orang yang mendapatkan uang dari apa yang dia sukai dan menghabiskan uang untuk apa yang dia sukai. Lha jadi saya harus terus mengejar apa yang saya sukai atau ngga? 

Jawaban saya jelas dan tegas sih. Saya akan mengejar apa yang saya suka. Kenapa? Bukan karena Einstein, Da Vinci, atau orang lain, tapi demi saya sendiri. Saya punya penyesalan pribadi yang cukup besar. Meski saya sering bilang, ini sudah takdir saya. Kalau saya tidak begini, saya ngga akan mungkin bertemu dengan sahabat-sahabat saya, mengalami banyak hal menyenangkan. Tapi kadang saya juga berfikir, bagaimana kira-kira hidup saya kalau saja pada waktu itu saya berani sedikit lebih ngotot. Kalau saja saya berhasil menyingkirkan rasa takut yang datang. Hidup saya pasti akan sangat berbeda sekali. Itulah kenapa saya selalu harus memperjuangkan apa yang saya yakini, paling tidak sekali. Jadi, di masa depan, saya bisa menertawakan semua kebodohan dan kegagalan saya, bukannya menyesali hal-hal yang tidak saya lakukan. 

Idealnya sih begitu. Tapi ternyata masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Saya sendiri bingung dengan apa yang suka. Apa yang saya suka sih sebenarnya? Ngga tahu. Apakah tidak masalah jika saya mencoba banyak hal baru setelah itu memutuskan suka atau tidaknya? Buang waktu ngga sih?

Dulu, saya berfikir karena saya peduli dengan lingkungan, maka saya pasti bisa dan suka jika belajar tentang lingkungan. Setelah satu tahun, iya sih saya suka, tapi ternyata tidak semuanya saya suka. Ada beberapa hal yang membuat saya super bingung bahkan sakit hati. Suka saja tidak cukup. Lalu saya mencoba realistis. Oke, saya jalani. Tapi apa benar ini yang saya inginkan?

Saya bingung lagi. Demi mencari tahu, saya mendaftar program Psikologi di Uniwersytet Warszawski, saya diterima dengan beasiswa Erasmus Mundus. Setelah sampai di sini pun ternyata saya juga tak kunjung menemukan apa yang benar-benar saya suka dan ingin saya lakukan. Lagi-lagi saya bingung. Saya memilih mata kuliah hanya berdasarkan apa yang saya suka. Apakah saya masih bermain-main sekarang?

Ini mata kuliah yang saya ambil untuk semester ini : 
1. Biological Bases Behavior (4 ECTS)
2. Fashion, Beauty, and Fame - the Psychology of Being Fabulous (1 ECTS)
3. Professional Ethics in Applied and Experimental Psychology (4 ECTS)
4. Psychology and Popular Culture (4 ECTS)
5. Psychology of Love (3 ECTS)
6. Psychology of Religion (2 ECTS)
7. Social Dilemma and Justice (4 ECTS)
8. Visual Percetion of Film and Media (3 ECTS)
9. Energy Security : Main Challenges for Poland and Europe (4 ECTS)
10.Tango Argentynskie (0,5 ECTS)
11. Balroom Dancing (0,5 ECTS)

Iya sih kalau melihat mata kuliah yang memang random banget gitu, kelihatannya memang saya main-main. Tapi kalau melihat bahwa saya mengambil full 30 ECTS dan 11 mata kuliah, itu jelas ngga main-main. Rata-rata, anak-anak Erasmus hanya mengambil 6-7 mata kuliah karena mereka full time traveller and part time student. Dan lagi, saya memang niat buat serius kuliah kok. Iya sih, saya sudah merencanakan banyak travelling. Tapi saya bertekad ngga akan bolos kuliah. Saya hanya akan jalan-jalan saat libur. Untunglah jadwal kuliah saya lumayan aneh. Karena jurusan psikologi di sini sudah internasional, jadi banyak dosen-dosen dari universitas lain di Eropa yang mengajar. Akibatnya, jadwal kuliah saya sangat aneh. Saya hanya kuliah 3 hari untuk Bulan Oktober ini. Untuk Bulan Desember - Januari, saya akan kuliah setiap hari dari pagi sampai malam. Gila memang.
Nah, meski niat serius, sebenarnya saya bingung juga bagaimana saya mempertanggung jawabkan mata kuliah yang saya ambil itu. Misalnya saja kepada koordinator home atau host university, EU yang ngasih duwit, atau Tuhan. Gimana ya? Random gitu sih. Tiba-tiba aja saya kepikiran adegan pada saat saya mempertanggung jawabkan mata kuliah yang saya ambil. 
Pelaku : T - entah siapa, bisa koordinator, pihak dari EU, atau siapa pun.
             K- saya
Lokasi : Ruang kerja T
Setting : T dan K duduk berhadapan.
T  : Wah kamu ngambil banyak mata kuliah ya?
K : Iya.
T  : Kamu ngambil tango dan balroom dance ya?
K : Ah, itu bagian dari Physical Education. Sejak dulu saya ingin menari, jadi selagi ada kesempatan, saya ambil saja.
T  : Ok. Kamu ngambil Energy Security juga ya?
K : Iya, Itu kan sesuai dengan bidang saya, lingkungan. Itu kan studi saya di Indonesia.
T  : Social dilemma and justice?
K : Itu sangat terkait dengan lingkungan. Kadang kala masalah lingkungan itu menjadi dilema di masyarakat. Misalnya saya mengenai common property right.
T  : Kamu ngambil etika eksperimen juga ya? Kenapa? Bukan ambil yang kuantitatif atau kualitatif saja?
K : Karena bisa jadi penelitian saja eksperimen dengan subjek manusia. Jadi saya harus belajar eksperimen juga. Saya juga mempelajari Biological Bases Behavior karena ternyata banyak perilaku kita yang dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis. (agak bingung karena sepertinya ngga nyambung).
T  : (mengerutkan kening) Psychology and Popular Culture?
K : Ehmmm..... (bingung) Saya pikir kita mempelajari lingkungan juga harus mempelajari popular culture. Bukan hanya mempelajari budaya masyarakat di remote area yang masih dekat dengan alam saja. (ngga yakin).
T  : The Psychology of Being Fabulous?
K : Mata kuliah itu mempelajari fashion juga. Saya pikir, industri kecantikan, fashion, dan sejenislah yang kadang kala mengorbankan lingkungan. (jawaban mulai random dan menyimpang).
T  : Psychology of Religion?
K : (Garuk-garuk kepala) Saya berfikir mungkin faktor religius bisa membantu masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan.
T  :  Visual Perception of Film and Media?
K : Mungkin pendekatan menggunakan film bisa lebih efektif untuk kampanye lingkungan.
T  : Maksudnya kamu mau bikin film tentang lingkungan?
K : Ehh, ngga juga sih. (panik banget)
T  : Psychology of Love?
K : Waduh.... (ngga tahu mesti ngomong apa)
T  : Hah? (mulai mengintimidasi)
K : Ehmmmm...... Ngga tahu. Kayaknya bagus. (dilempar asbak)

Yah, meski mata kuliah saya random banget, tapi percayalah, mata kuliah-mata kuliah itu memang apa yang saya butuhkan. Biological Bases Behavioral misalnya, ini materi yang benar-benar ingin saya pelajari saat S1 namun agak tidak kesampaian. Materi ini penting karena membahas bagaimana otak manusia berfungsi dan pengaruh faktor lingkungan dan genetik terhadapnya. Lalu Psychology of Religion dan Psychology of Love semoga mendewasakan saya dan juga membantu saya dalam melakukan tugas-tugas perkembangan saya. Percaya lah. Meski terkesan random dan main-main. Kuliah saya akan berguna untuk saya, meski pun juga saya tidak mampu menjelaskan alasan kenapa mata kuliah tersebut saya ambil. Saya punya alasan kok. Meski pun menyimpang dari bidang ilmu saya. Ini akan membantu saya tumbuh. Semoga ya?

Ngomong-ngomong saya juga ngga terlalu random atau ngawur  banget kok. Buktinya, saya ngga jadi ngambil belly dance tuh. Saya nyadar kok kalo perut saya gendut. ;)

Selanjutnya, saya harus rileks dan tidak terlalu serius dengan hidup saya. Susah sih. Tapi karena teman-teman saya banyak yang ngomong kalo saya terlalu serius. Bahkan pasangan tango saya (yang baru sekali ketemu saya) bilang saya terlalu serius dan sering bilang, "You have to relax. You hold my hand too tight." Ups... sorry. T_T (jadi mikir harusnya saya ikut kelas yoga saja.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar