Dari International Conference on International Relation, Mampir ke Sidoarjo, Sampai Dikejar Rombongan Zombi di atas Jembatan di Sungai Vistula

Di suatu Hari Sabtu pagi yang cerah, saya dan Kinan, teman satu asrama yang juga anak EM dari Indonesia memutuskan untuk hadir di konferensi HI. Berhubung tema pas waktu itu lingkungan, jadi berangkat lah kami. Kami cuma tahu lokasi konferensinya di Ul. Dobra. Berbekal petunjuk jakdojade, kami pun naik bis dan turun di Dobra. Ternyata oh ternyata, lokasi konferensi ada pas di depan pemberhentian bus sebelumnya. Jadi lah kami berdua jalan kaki balik. Apalagi kaki Kinan yang masih sakit akibat kecelakaan motor di Yogyakarta setahun yang lalu. Jadi lah kami jalan lumayan jauh. Saat itu lah kami melihat bangunan main library UW yang bagus banget. Lokasi konferensi persis di depan bangunan perpustakaan itu. Gedung konferensinya cukup modern minimalis. Ruang konferensinya pun kecil. Tapi sayang oh sayang, kami berdua tidak diperkenankan masuk karena diskusi hari itu tertutup dan hanya diperuntukan untuk peserta konferensi. Kami datang karena pada hari pertama, mahasiswa UW bisa turut serta menghadiri konferensi itu. 

 Main Library UW yang mengingatkan saya pada Ciwalk

Habis ditolak masuk, kami memutuskan untuk naik bus apapun dan terserah sampai di mana pun. Kami punya banya waktu kok. Jadi lah kami naik bus pertama yang datang. Lumayan lah, ini pengalaman yang cukup menyenangkan. Bagaimana tidak? Kami menemukan tempat-tempat baru yang berbeda dari Warsaw yang selama ini kami kenal. Bahkan pemberhentian bus kami pun di daerah antah berantah yang suasananya mirip seperti terminal busway di Bantul, DIY. Di jalan-jalan pun kami menemukan rumah-rumah mungil yang tidak mungkin ditemukan di pusat kota Warsaw. Kami juga menemukan daerah ladang pertanian yang beberapa diisi dengan tanaman jagung. Lalu, kami juga menemukan pusat industri Warsaw. Daerah yang penuh dengan pabrik. Mirip Sidoarjo, tapi minus Lumpur Lapindo. 

Saya bagi beberapa foto yang saya ambil dari dalam bus.

Ladang jagung dan rumah

Ladang jagung dan pusat industri

 Gereja yang mungil dan cantik

Di akhir, kami bahkan ngga tahu lagi kami ada dimana. Berhubung bosan dengan pemandangan pabrik-pabrik (dan musnahlah anggapan kami bahwa Warsaw itu cantik dan elegan), kami memutuskan untuk kembali ke DW. Centralny, Warsaw Railway Station. Kami ada janji untuk turut serta dalam Monthly Gathering orang-orang Indonesia di Warsaw. Kami naik trem ke rumah tempat pertemuan. Berbekal jakjojade lagi, kami ngacir ke lokasi kejadian. Lagi, lagi (dan mungkin bakalan lagi) kami turun kejauhan. Jadi lah kami menyusuri jalan kami menemukan apartemen nomor 11. Kami berdua menemukan apartemen nomor 10 dan 12 yang bersebelahan. Masalahnya, tidak ada apartemen nomor 11. Di seberang jalan, sudah beda nama. Bukan jalan yang kami cari. Apalagi, orang-orang lokal yang kami tanyai juga tidak tahu keberadaan apartemen yang kami maksud. Bodohnya lagi, kami ngga tahu bakalan berkunjung ke rumah siapa, jadinya ngga bisa telepon pihak yang bersangkutan. Kami sempat berfikir ini mirip peron di Buku Harry Potter. Apartemen nomor 11 ada di antara apartemen nomor 10 dan 12. Hahahaha.....

Bingung mau gimana lagi, akhirnya kami menyusuri sepanjang jalan dan akhirnya sampai lah kami di lokasi pertemuan. Tempatnya ternyata ada di ujung jalan. Jadi kami salah turun. Harusnya kami turun di perempatan pertama, bukan yang kedua. Ini seperti naik bis nomor 7, dan harus turun di Toga Mas, tapi kamu malah turun di Pasar Demangan. Begitulah.

Pas ngumpul bareng teman-teman setanah air, senang sih. Bisa makan makanan yang udah dikangenin banget. Acaranya juga rame dan ketemu banyak teman baru. Lalu itu pertama kalinya saya nemu kucing di Polandia. 

Ima, cuma dapat foto sebiji doang. Kucingnya jalan-jalan terus sih.

Rampung acara PPI, Kinan memutuskan buat ikutan acara party anak-anak ESN (Erasmus Student Network) di 1500m2 club (club ini sepertinya sangat populer, karena sering jadi rujukan tempat pesta anak2 UW. Di kemudian hari pun saya berkesempatan ke sana.). Waktu itu saya dan Kinan berhenti di atas jembatan dekat Rondho Washingtona. Berdasarkan peta, kami harus turun ke bawah jembatan. Saat itu, kami berbarengan dengan dua orang mbak-mbak yang sepertinya juga akan menghadiri party di tempat yang sama (mereka bilangnya sih gitu), tapi entah kenapa malah menghilang di tengah jalan. Atau mereka nyasar juga. Entah lah. Setelah naik turun jembatan beberapa kali dan kembali terus-terusan ke tempat semula, kami pun memutuskan pulang. Kami akhirnya berjalan di atas jembatan menuju Warsaw. Pemberhentian yang kami tuju ada persis di tengah jembatan Sungai Vistula (Wisla). 

Malam itu di atas jembatan berdua saja dengan Kinan agak menyeramkan. Entah kenapa jalanan sepi sekali. Tidak ada kendaraan yang lewat. Waktu itu kami menganggap itu pemandangan yang umum terjadi tengah malam. Kami hanya bertemu dengan gerombolan orang-orang mabuk yang nari-nari di depan kami. Kami syok. Mau lari juga ngga mungkin, apalagi mereka bawa minuman keras gitu. Untung lah mereka segera pergi. 

Sekitar 15 menit kemudian, kami ngga sengaja menengok ke belakang. Dari arah belakang yang tadinya sunyi dan sepi sendiri, tiba-tiba muncul gerombolan orang. Bukan hanya geromblan. Tapi ada sekitar orang yang berjalan ke arah kami. Semuanya berpakaian hitam-hitam, berjalan bersama-sama, dan seolah-olah tiada akhir. Kami kaget sekali. Saya coba teriak, "Kinan, lihat belakang! Siapa orang-orang itu? Tadi mereka ngga ada kan? Kita dikejar zombie! Kinan, kita dikejar zombie. Mereka zombie kan? Jalannya sama gitu. Bajunya juga hitam-hitam gitu. Kalo kita dibunuh piye? Ayo lari!!!!!" Saya panik luar biasa.  "Mbak, aku ngga bisa lari e. Ya udah, kalo emang dibunuh ya terpaksa aku harus menyerahkan diri." Kinan juga mulai jalan cepet. 

Begini suasananya : 

Dari sepi begini

Jadi muncul ribuan orang semacam ini

Berhubung jalan kami lambat (dibandingkan kumpulan zombie itu), kami pun tersusul oleh mereka. Awalnya takut banget. Tapi setelah beberapa orang sudah melewati kami dan kami yakin bahwa mereka manusia, kami mulai tenang dan mulai memikirkan analisis selanjutnya. "Mereka ini orang-orang dari Praga (daerah sebelah timur Sungai Vistula) yang boyongan ke Warsaw ya? Kenapa? Apa ada gempa di Praga? Atau Praga sudah terkontaminasi suatu zat berbahaya, sehingga orang-orang pada pindah ke barat? Ledakan raktor nukli? Poland punya nuklir ngga sih?" Analisis mulai aneh-aneh. Saya pun bertanya pada seorang ibu yang berjalan cepat. Jawabannya cuma, "We live in Warsaw." Haaahhhhh? Kami bingung. Iya, saya juga tinggal di Warsaw terus apa masalahnya? 

Tiba di ujung jembatan kami melihat para polisi mengamankan jalan. Ada pula ambulan. Bis dan trem yang lewat jalan itu tidak beroperasi sama sekali. Saya menyimpulkan ada kecelakaan. Jadi jalur dialihkan. Rombongan orang itu adalah orang-orang yang menunggu trem yang karena jalurnya dialihkan atau tidak beroperasi, terpaksa jalan kaki. Kinan lain, dia memutuskan bertanya pada polisi. Jawabannya, "Orang-orang itu baru pulang menonton air gear dari Inggris yang diadakan di Stadium Narodowe." Oalah... pantes banyak amat. Orang satu stadion masuk jembatan semua.

Jadi lah kami berdua meneruskan jalan ke Foksal, dekat Centrum, pemberhentian bus terdekat dari situ. Saat itu lah, dikawasan Nowy Swiat, kami melihat banyak anak-anak muda Warsaw yang sedang berpesta. Bar dan kafe penuh. Bahkan jalanan pun penuh. Suasananya ramai sekali. Apa karena malam minggu ya? Atau malam minggu terakhir sebelum masuk kuliah kembali? Entah lah. Beberapa kali, kami bahkan menemukan beberapa limousin yang berhenti di jalanan Warsaw. Sepertinya, malam itu, semua orang di Warsaw keluar untuk pesta. 

Entah kenapa jalanan ini penuh orang

Salah satu limousin yang berhasil kefoto

Jadi meskipun malam itu saya ngga pernah nyampe ke club-nya, tapi lumayan lah merayakan suasana malam Warsaw. Deg-degannya itu lho!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar