Menjadi Diri Sendiri

Satu minggu yang lalu, ada seorang temen yang neror saya. Iya, ini neror beneran. Soale dia curhat berkepanjangan masalah cowok. Okey, tepatnya cowok yang dia sukai. Dia curhat saya diemin aja mulai dari ditinggal tidur siang, jalan-jalan, jaipongan, sampe nonton, curhatnya masih tetap berlanjut. Isi curhatannya, dia sedang galau soalnya cowok tersebut (kita sebut dia talas bogor) pernah bilang kalo cewek yang bisa masak itu cantik. Nah mantannya dia (kita panggil ubi cilembu) ini dulu pas mereka masih pacaran akhirnya belajar masak. Nah, teman saya itu galau berat gara-gara dia ngga bisa masak sama sekali dan ngga kepikiran buat belajar masak juga. 

Waktu itu, berhubung curhatannya sudah banyak banget, terpaksa saya balas,"Lha tapi si ubi cilembu udah belajar masak juga akhirnya tetep saja didepak sama si talas bogor." Beberapa waktu kemudian, teman saya tersebut membalas,"Iya ya ki, mending jadi diri sendiri aja." Saya cuma mengiyakan. Tapi saya mikir, sebenarnya belajar masak juga ngga apa-apa. Ngga ada ruginya juga.

Habis itu, saya tetep mikir. Gimana cara jadi diri sendiri ya?Menjadi diri sendiri itu ngga ada contohnya. Mana ada Rizki Darmadi sebelum saya. Ngga ada kan? Mending kalo mau Hillary Clinton sekalian. Ada contohnya. Tinggal diikuti Hillary Clinton ngapain aja pada umur sekian. Ngga akan jadi Hillary Clinton sih, cuma mirip. :)

Kalo nyari-nyari di internet cara menjadi diri sendiri, kebanyakan yang ada adalah cara menjadi diri yang ideal. Diri yang ideal kan jelas berbeda dengan diri sendiri. Misalnya contoh saja, diri ideal saya adalah harusnya saya itu adalah seorang perempuan cantik jelita berambut hitam tebal dengan tinggi 165 cm, pintar, baik hati, ramah, udah menyandang dua gelar doktor di bidang matematika dan psikologi, dan berprofesi menjadi pejuang lingkungan. Punya 3 rumah, di Ngawi, Bandung, dan satu apartemen di Jakarta. Punya pulau pribadi juga di kawasan pasifik. Kalo pulang kampung pake jet pribadi, ngga perlu repot-repot nyari tiket kereta.

Kalo jadi diri sendiri karakteristiknya seperti di atas, wah bisa gila saya. Oke lah, yang lainnya masih mungkin tapi kalo tinggi 165cm. Bisa ngga tuh? Ngomong-ngomong saya masih di dalam masa pertumbuhan ngga sih? Menurut saya, menjadi diri sendiri itu berbeda dengan menjadi diri ideal. Diri ideal adalah diri kita yang sempurna, impian kita. Nah kalo diri sendiri itu ya artinya bahagia dengan diri sendiri yang sudah ada ini. Bukan kesanya nrimo dan ngga ada usaha lagi, tapi usaha pun jalannya disesuaikan dengan dir sendiri. Bingung?

Jadi gini, misalnya perempuan. Ambil deh, sifat-sifat yang diinginkan oleh semua perempuan sedunia, contoh : cantik, pintar, mandiri, baik, dll. Pertama cantik, ada banyak sekali cara dan metode untuk menjadi cantik, tanya om google saja, dia tahu banyak mulai dari cara tradisional yang yang melibatkan kegiatan memeras lemon dan memarut bengkoang, sampai dengan cara modern yang melibatkan pisau bedah.  Bisa juga memilih cantik level tinggi semacam 'cantik dari dalam', 'cantik hatinya', dan lainnya. Pilihan tergantung masing-masing. 

Begitu juga untuk contoh yang kedua. Misalnya pintar. Semua orang bisa memilih mau pintar di bidang akademis, olah raga, atau lainnya, misalnya memasak, merajut, menari, dan lainnya. Menjadi pintar pun pilihan. Kamu mau pintar di bidang apa? Yang ketiga, mandiri pun pilihan, mau mandiri di bidang finansial, mandiri dalam mengambil keputusan, atau mandiri dengan berani ke kamar mandi sendiri. Terserah.

Nah, menurut saya, semua pilihan kita itulah yang pada dasarnya akan menjadikan diri kita kita. Kita menjadi diri sendiri. Kita bisa bahagia tanpa merasa terbebani dengan diri ideal kita yang mungkin terlalu sempurna. Atau juga peduli dengan tuntutan orang lain, asalkan kita sudah memilih apa yang menjadi pilihan kita masing-masing. Misalnya orang lain mau kita pintar akademis, namun kita memilih untuk pintar di bidang olahraga, dan akhirnya kita menjadi juara nasional gobag sodor. Ya, ngga masalah, kan? Iya, itulah kita. 

 Sumber gambar writhink

Ternyata, menjadi diri sendiri bukan hanya topik untuk remaja ya? Atau kami sebenarnya masih remaja? :)

nb : Saya menerima diskusi lho atas tulisan saya di atas. Itu murni pendapat pribadi. 

Selamat pagi Indonesia,
Kiki

2 komentar:

  1. kiki aku mau diskusi, tapi diskusinya lewat wa aja, hoho...
    *kabur....

    BalasHapus
  2. Selalu berusaha menjadi orang yang lebih hebat itu membahayakan diri kamu secara tak langsung dikarenakan kamu mengupayakan menembak personalitas dalam diri kamu dan merubahnya menjadi insan lain. maka kamu tak mensyukuri diri kamu tunggal dengan segala keutamaan dan kekurangan.
    Sebaiknya anda berhenti menjadi orang lain agar kamu dapat menikmati hidup ini. Dengan mengetahui cara menjadi diri sendiri akan lebih mampu menikmati pandangan hidup lantaran anda menerima diri anda dgn keutamaan dan kekurangannya.

    BalasHapus