Jujur, Saya Takut

Saya takut? Iya, beneran. Saya takut terjadi kerusuhan lagi. Takut sekali. Lihat saja di Facebook, teman-teman saya yang sebelumnya santun, entah kenapa berubah menjadi 'liar'. Bahkan, saya tahu beberapa dosen (dan bahkan bertitel profesor) yang fanatik terhadap satu golongan tertentu dan rajin memberi tautan berita yang menyudutkan golongan lainnya. Beberapa teman juga melakukan hal yang sama. Kadang kala ada juga berita yang ngga nyambung sama sekali. Minyalnya capres X ngga bisa mendaki Gunung Semeru. Lha apa korelasinya mendaki gunung sama kemampuan menjadi presiden yang hebat? Bahkan banyak sekali orang-orang terkenal yang saya kagumi tiba-tiba berubah dan bikin saya mikir,"Kok ternyata dia gitu ya?". Ngga tahu deh. 

Bahkan yang lebih sedihnya lagi, konflik ini sudah sampai ke ranah agama. Bayangkan, mana ada masuk surga dan neraka cuma karena pilihan presiden. Hai, manusia bisa berubah lho. Gimana kalo sekarang calon presiden itu baik, tapi tahun depan, setelah jadi presiden mereka berubah. Ingat Bung Karno atau Pak Harto kan? Yakin mereka tetap menjadi pemimpin yang baik sampai akhir jabatan? Jadi masih yakin mau menyamakan surga dengan hal yang ngga pasti kayak gitu. Oh ya, berita terakhir, para pemuka agama dari kedua kubu menetapkan kalo mau masuk surga (atau menghindari neraka gitu) harus nyoblos calon mereka (Emang surga punya nenek lo?). Jadi bingung kan? Dua-duanya bilang gitu. Katanya juga, kalo golput juga haram. Lah, gimana nasib rakyat jelata yang minim agama kayak saya ini. Siapa yang harus dipilih?

Persoalan agama emang rentan. Ini buat saya lho. Saya ingat, ada seorang dosen saya yang cerita bahwa konflik Poso diawali oleh konflik tukang ojeg dengan pelanggannya. Lha malah jadi konflik SARA macam gitu. Sedih kan?

Sebenarnya, kalo melihat lokasi saya, Bandung, kemungkinan besar sih bakalan aman. Setahu saya, hal besar (maksudnya pengrusakan, dll) berskala nasional yang pernah terjadi di Bandung itu cuma Bandung Lautan Api. Itu pun masih dalam rangkaian mempertahankan kemerdekaan Indonesia puluhan tahun yang lalu. Saya googling dengan kata kunci 'mahasiswa Bandung mei 1998' hasilnya kebanyakan menceritakan bahwa Bandung cinta damai. Ngga ada kerusuhan di Bandung Mei 1998. Oke, saya aman (maklum, saya sendirian di sini, jadi kalo harus lari, saya harus lari kemana?). Terus gimana dengan daerah lain? Semoga saja tetap aman dan terkendali. Bulan puasa juga kan?

Saya tahu, pemilu kali ini cukup 'bahaya'. Jarang-jarang lho pemilu di Indonesia cuma dengan dua pilihan. Dulu-dulu, minimal tiga lah. Jadi kalo kalah, masih ada teman. Sekarang, cuma dua. Pilihan untuk masing-masing kubu, itu cuma menang atau kalah. Dan sepertinya, pendukung kedua kubu sama besar dan sama kuat. Saya yang diawal yakin kalo salah satu capres tertentu bakalan menang, tiba-tiba berpikiran lain. Kalo dilihat-lihat dari jumlah pendukung yang aktif, kok kayaknya imbang ya. Tapi ngga tahu dengan orang-orang yang memilih diam di luar sana.

Iya, bangsa Indonesia memang selalu semangat menyambut pesta demokrasi. Lihat aja berapa jumlah partai peserta pemilu pertama kita setelah Indonesia merdeka! Atau jumlah partai peserta pemilu setelah reformasi. Banyak banget kan? Jadi mungkin apa yang terjadi di media sosial (terjemahan socmed itu media sosial kan? Kok janggal ya? Malah kayak nama koran.) itu juga salah satu bentuk kebahagiaan menyambut pemilu. Bisa jadi banget lho.

Saya jadi ingat nih, saya juga manusia Indonesia yang bahagia menyambut pesta demokrasi. Dulu sewaktu S1, untuk mata kuliah Penyusunan Skala Psikologi, saya mengambil topik tentang salah satu orang yang menjadi capres pada pemilu 2014 ini. Saya ingat sekali karena di mata kuliah ini, saya mendapat nilai A, mengalahkan sahabat merangkap saingan terberat saya. Biasanya, nilai saya selalu lebih jelek darinya. Paling bagus itu seri. Di mata kuliah ini saya menang, maklum lah, datanya diambil dari 3 universitas di DIY. Skripsi saja saya ngga segitu-gitu banget. Yah, soalnya topik ini menarik untuk saya. Waktu saya skripsi, topik ini sudah kadaluwarsa dan ngga bisa dipake lagi. Sedih ngga tuh.

Eh, saya ngomongin apa sih? Ngelantur deh kayaknya. Oh ya, iya tesis. Iya, tesis ini juga bikin saya takut. Oke byee.... mau nulis di tempat lain dulu. Sedih nih, ngga nambah halaman sejak sebulan yang lalu. ;(

Salam damai semuanya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar