Buy Nothing New in June

Pertama kali mengenal Buy Nothing New Month dari salah satu teman yang ambil Environmental Studies di University of Melbourne, Australia. Buy Nothing New Month ialah salah satu NGO di Australia yang fokus pada kampanye untuk melakukan konsumsi secara bijak. Mereka menekankan konsumen untuk memikirkan dari mana barang-barang tersebut berasal, kemana barang-barang tersebut akan dibuang, dan semua alternatif lainnya selain membeli, misalnya berbagi, membeli bekas, tukar-menukar, atau saling pinjam.

Buy nothing new ini bukan berarti tidak membeli barang-barang baru sama sekali, namun membeli dengan bijak. Barang-barang kebutuhan tidak perlu harus selalu baru, bukan? Dan lagi, pemenuhan kebutuhan bisa diperoleh bukan hanya dengan membeli. Intinya adalah kesadaran mengenai life cycle analysis (LCA) atau tapak ekologis (ecological footprint) dari setiap benda yang kita gunakan. Kita perlu mempertimbangkan berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah barang. Kemudian berapa banyak energi yang terbuang.

Di Australia sendiri, kampanye ini sepertinya telah berjalan cukup baik. Mereka telah memilih Bulan Oktober sebagai Buy Nothing New Month. Mereka juga sering mengadakan bazar barang-barang bekas, memberikan banyak tips untuk hidup yang berkelanjutan, melakukan promosi restoran, kafe, dan merk-merk yang melakukan 3R (Reduce, Reuse, and Recycling) dan peduli lingkungan. Di sisi lain, mereka juga mengecam beberapa merk yang mengabaikan manusia dan lingkungan. Di Indonesia sendiri, saya tidak tahu apakah telah ada kampanye semacam ini.

Kampanye Buy Nothing New Month di Bulan Oktober 2012 lalu sebenarnya telah menarik minat saya. Bukan hanya karena saya mahasiswa Ilmu Lingkungan, namun saya merasa kampanye ini sangat penting karena memulai dari awal, yaitu tidak membeli. Tidak membeli berarti tidak akan ada sampah yang dibuang. Tidak membeli juga berarti permintaan pasar menurun sehingga eksploitasi terhadap alam dapat berkurang. Sebelumnya, saya pernah berfikir  bahwa banyak hal yang kita beli hanya berdasarkan pada impulsive buying. Jika dipikir panjang, kita tidak benar-benar membutuhkan barang-barang tersebut. Selain itu, saya merasa kampanye ini lebih bisa diaplikasikan karena dimulai dari perilaku. Seperti pendapat Bapak Profesor Otto Sumarwoto bahwa mencintai lingkungan harus lah dimulai dari diri sendiri.


souce : here

Setelah mencermati tips-tips gaya hidup berkelanjutan dengan buy nothing new, saya merasa ada banyak hal yang bisa diterapkan di Indonesia. Bulan Juni ini, saya berniat untuk melakukan proyek pribadi, Buy Nothing New in June. Hal ini juga mempertimbangkan banyaknya sampah di Kota Bandung. Selain juga adanya Great Pacific Garbage Patch di North Atlantic Ocean yang sudah lebih luas dari negara Prancis. Saya memang ketinggalan untuk ikut andil di Bulan Oktober kemarin. Kalau nunggu tahun ini, masih terlalu lama. Jadi saya mulai dari sekarang saja, dari diri saya sendiri.

Berikut ini tips-tips buy nothing new versi saya yang diadaptasi dari Buy Nothing New Month Australia : 
1. Tidak membeli isi lemari pakaian (baju, celana, sepatu, batik, dan syal ) baru.
2. Jika memang perlu sekali, usahakan beli yang berkualitas bagus agar awet dan tidak segera menjadi sampah.
3. Tidak membeli buku baru. Kebutuhan membaca dipuaskan dengan buku bekas atau minjam.
4. Hanya membeli barang-barang kebutuhan pokok (seperti sabun, shampo, pasta gigi, dll) apabila sudah benar-benar habis. Tidak ada acara belanja awal bulan.
4. Selalu membawa air minum dalam botol kemana pun agar tidak perlu membeli air mineral kemasan yang menghasilkan sampah plastik.
5. Membawa kantong belanjaan kemana-mana agar tidak perlu meminta plastik sewaktu belanja.
6. Memperbaiki payung dan sepatu saya yang rusak. Tidak perlu beli baru.
7. Mending makan di warungnya dari pada dapat bungkus makanan dari sterefoam. 
8. Mempergunakan kertas bekas UP dan tesis untuk notes jadwal dan coretan.

Wah, jadi kepikiran pasti bakalan asyik kalau saya punya banyak teman untuk melakukan buy nothing new month ini. Bisa saling tuker-tukeran baju (asal sesuai ukuran). Bisa juga saling pinjam meminjam buku (yang ini butuh banget).

Jadi teman-teman, ada ngga yang mau menemani saya Buy Nothing New Month bulan ini? Mumpung masih awal bulan.

Bandung, 2 Juni 2013 16.22

Rizki Darmadi Mayangsari


Website Buy Nothing New Month di http://www.buynothingnew.com.au/

Twitter di https://twitter.com/Buy_Nothing_New
Sumber gambar dari https://www.facebook.com/photo.php?fbid=358946340856548&set=a.304244462993403.70874.304242066326976&type=1&relevant_count=1





2 komentar:

  1. It's not my style at all. haha. udah terlanjur belanja habis2an Ris, lagian aku butuh banyak baju biar fashionable.

    BalasHapus
  2. Sebenarnya, kampanye ini hanya untuk satu bulan aja. Maksudnya untuk belajar buy nothing. Di Australia, mereka sudah memperkenalkan beberapa produk yang ramah lingkungan dan bazar secondhand. Kadang aku sampai bingung lho mereka ini NGI atau iklan, karena seringnya malah ngiklan.

    Untuk mulai buy nothing sendiri, sebenarnya sulit lho. Aku tahu kampanye mereka Oktober tahun lalu, namun mikir kayake ngga bisa ikutan soale aku pindahan kos dan butuh beli banyak benda buat ngisi kamar. Ya udah batal, mau bulan-bulan selanjutnya, aku wisuda, tes IELTS, UAS, Pra Pasca, segala macam yang butuh banyak camilan dan buku-buku baru biar tetap waras. Jadi lah baru bisa dan niatnya di bulan ini. Semoga ja lancar sampai akhir bulan (kayak puasa ramadhan aja ya?).

    Kemarin aku ke Gramedia dan ada satu buku yang cuma baca cover-nya aja tuh bikin deg-degan. Pingin banget beli. Tapi karena udah komitmen untuk ngga beli, ya udah, beli bulan depan aja. Jadi ini hanya semacam percobaan, kalo ternyata asyik, bisa juga lho lanjut jadi gaya hidup.

    Sebenarnya, ada juga kok hal-hal yang itu susah buat aku lakukan. Misalnya dengan memasak makanan sendiri, ini juga mengurangi plastik bungkus makanan. Sehat juga kan? Tapi kan di kosku ngga ada dapur. Mau bagaimana lagi?

    Coba deh, cek lemari bajumu. Lihat baju-baju yang ada di tumpukan bawah dan jarang dipakai. Inget-inget lagi, kenapa baju-baju itu dibeli. Apakah memang perlu, atau baju itu memang hanya untuk sekali pakai (untuk satu acara tertentu), atau belinya hanya berdasarkan keinginan sesaat, karena bajunya lucu, warnanya ok, dll. (Tapi baju-baju semacam ini bisa disumbangkan ya. Misalnya kayak pas bencana merapi kemarin). Padahal, biaya untuk pembuatan sepotong baju itu besar. Mulai dari pohon kapasnya, limbah pewarna baju yang dibuang ke sungai, kesehatan pekerja pabrik tekstil, sampai dengan limbah baju bekas itu.

    Tapi pada akhirnya memang tergantung diri masing-masing sih.

    BalasHapus