Lagi, Praktek Observasi dan Kuliah Visual Perception of Film

Sabtu kemarin, saya memutuskan untuk nonton Film Rusia. Mumpung sedang ada Festival Film Rusia di Warsaw. Saya familir sih dengan film-film Iran, Korea, Jepang, Cina, atau Eropa. Rusia? Ngga ada bayangan sama sekali. Lagi pula ada yang judulnya Chernobyl gitu. 

Sampai di Kinoteka, saya langsung ngacir ke stan festival. Milih film. Tiba-tiba kepikiran sesuatu yang sangat penting. Subtitle film-film-nya pake bahasa apa? Film-nya udah pasti berbahasa Rusia. Subtitle-nya? Polish kah? Habis nanya, ternyata subtitle semua film-nya Polish. Lha terus gimana nasib saya? Saya ngga ngerti Bahasa Rusia sama sekali. Polish? Dikit banget. Yah, mending pilih film lain aja deh. Jangan yang Rusia. 

Tanpa mikir panjang, pilihan jatuh pada film Wenus w Futrze (Venus in Furs). Ini memang film yang rencananya mau saya tonton dalam waktu dekat ini. Saya tertarik dengan gambar pada iklan promosi film ini yang terpampang di banyak bus stop. Gambarnya sederhana, cantik, dan mengena. Yah, meski bukan favorit, nama Roman Polanski cukup mengundang saya untuk segera menyambangi bioskop.

Ini poster film Venus in Furs (source : here)

Setelah beli tiket, saya nunggu bentar sebelum pintu teater dibuka. Iseng, saya googling film ini. Kaget. Ternyata ini Film Prancis. Bahasa yang dipakai di film ini Bahasa Prancis. Subtitle? Udah pasti Polish. Yah, mari kita berharap Roman Polanski bisa menyampaikan maksud film ini lewat bahasa visual. 

Begitu film sudah mulai, firasat buruk datang. Ini kok latar tempatnya di gedung pertunjukan gini. Mana ada panggung besar yang kayaknya settingnya bisa diubah-ubah gitu. Jangan-jangan ini tipe film yang menonjol di script dan isinya percakapan antara dua orang gitu. Mana pemainnya ngga ada yang kenal lagi. Lha berarti saya ngga bakalan mudheng sama sekali dong? Gimana ini?

Dugaan saya benar. Latar tempat film ini ngga berubah dari awal sampai akhir. Jika di film lainnya biasanya ada figuran, di film ini sama sekali ngga ada. Benar-benar cuma dua orang itu dari awal sampai akhir. Agak gondok juga sih karena penonton yang lain pada asyik ketawa-ketawa gitu, saya cuma bisa mikir, 'ini ngomongin apa sih?', 'wah visual cues yang dipakai di scene ini tuh human movement, cahaya, dan social cues. Roman Polanski menggunakan top down dan bottom up faktor untuk menarik perhatian penonton.'. Ini sih kuliah. Ini juga sama kayak praktikum Observasi jaman S1 dulu. Untung lah aktor dan aktrisnya keren, jadi saya ngga kesulitan mengartikan ekspresi muka dan bahasa tubuh mereka. Dan saya juga bisa menangkap komedi visual dari beberapa scene. Untung lah.

Saya ngga begitu jelas ceritanya gimana. Saya juga ngga berniat untuk mencari review atau sinopsis ceritanya dulu karena saya ingin menguji apakah dugaan saya benar atau tidak. Kalo ternyata ceritanya berbeda ya berarti saya kreatif sekali kan? Bisa juga berarti aspek visual saja tidak cukup untuk menangkap apa yang diinginkan oleh sutradara.

Berdasarkan observasi saya, ceritanya tentang seorang aktris yang ikut audisi ke sebuah teater gitu. Sepertinya sih dia terlambat, karena (kita sebut saja sebagai pimpinan teater) pimpinan teater sudah berniat pulang. Tapi si aktris ini memaksa untuk ikut audisi drama Venus in Furs. Terpaksa, si pimpinan teater akhirnya bersedia dan ternyata si aktris ini sangat brillian. Lalu entah kenapa, mereka berdua masuk ke dalam cerita. Bahkan si pimpinan teater sampai mau diikat segala macam dan ditinggalkan begitu saja di akhir film. 

Secara umum, filmnya ok. Saya ngga nyesel sih udah nonton. Di awal sempat kepikiran kenapa ya film ini ngga tayang di Indonesia. Tapi kalo emang tayang juga kayaknya bakalan abis kena sensor. Yah, jangan-jangan malah ntar film-nya tinggal 30 menit doang. Wahahahhaa..... Ngga tahu deh. 

2 komentar:

  1. ceritanya kan gt doang.. apanya yg disensor ki? *penasaran, hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin juga ngga akan disensor kok. Tayang ngga sih di Indonesia? Kemarin mau nonton lagi online, nihil.

      Hapus