Cinderella tanpa Sepatu Kaca

By Miss Rain - 21.57

Salah satu resolusi tahun ini adalah mengisi blog minimal satu minggu sekali. Ternyata sesuai dugaan, saya hanya akan menulis di saat-saat terakhir. Saya baru menulis tadi siang, saat minggu kedua tahun ini hampir purna. Ngga disangka, ternyata yang keluar malah tulisan kayak gini. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

source here




Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang gadis bernama Cinderella. Dia hidup bersama dengan ibu dan dua saudara tirinya. Kedua saudara tirinya semuanya perempuan. Kita panggil mereka kakak I dan kakak II. Ibu tiri dan dua kakak tersebut sangat jahat kepada Cinderella. Cinderella harus mengerjakan pekerjakan rumah sehari-hari seperti memasak, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan halaman, mencuci, sampai memanen hasil kebun. Selain mendapatkan perlakukan berbeda dengan  kedua kakaknya, Cinderella juga harus tidur di loteng atap rumah mereka.
Suatu pagi, datanglah utusan dari istana raja untuk menyampaikan undangan pesta dansa bagi semua putri keluarga tersebut. Punggawa istana menyebutkan bahwa semua gadis di negeri itu boleh datang dalam pesta dansa tersebut. Dalam pesta dansa, pangeran akan memilih calon istrinya kelak. Cinderella mendengarkan perkataan utusan tersebut dari balik lemari sembari mengepel lantai.
Usai si utusan berlalu, si ibu tiri lalu mengajak kedua putrinya berbelanja ke pasar. Dia sangat berharap agar salah satu dari putrinya menjadi istri pangeran. Dia rela menghabiskan tabungan hari tuanya demi perhiasan dan gaun-gaun mahal untuk anak-anaknya. Dia berfikir,”Menjadi besan raja memang butuh modal besar. Nanti kalau anakku jadi putri, pasti balik modal.”
Di loteng, Cinderella sedang bingung. Haruskah dia turut datang ke pesta dansa? Kalau mau datang, baju apa yang akan dia pakai. Tidak mungkin dia datang ke istana dengan baju rombengan bau asap dapur. Di tengah galau, muncullah 2 ekor tikus sahabat Cinderella.
“Cinderella, ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya tikus I.
“Aku sedang bingung. Pangeran mengadakan pesta dansa esok hari. Semua gadis di negeri ini diundang hadir karena pangeran akan memilih calon istrinya, tapi aku tidak punya gaun yang bagus untuk pesta di istana,” sahut Cinderella pelan.
“Datang saja Cinderella. Gaun bukan hal yang utama. Kalau semua gadis negeri ini diundang, bukan alasan bagimu untuk tidak pergi hanya karena gaun. Di pesta nanti makanannya pasti enak. Bawakan aku keju yang lezat ya. Aku sudah bosan makan keju murahan,” kata tikus II.
“Sebelum masuk istana, aku akan diusir kalau datang dengan baju mirip kain lap ini. Lagi pula, mana mungkin pangeran akan jatuh cinta padaku kalau penampilanku celemongan seperti ini.”
“Aku sudah bilang kan, penampilan bukan utama. Yang paling penting adalah keju mahal,” tikus II berapi-api. “Aku sudah mendambakan makan keju kualitas nomor satu dari Belanda yang hanya dapat dinikmati oleh keluarga bangsawan. Kumohon pergilah! Kau satu-satunya harapanku.”
“Wahai Cinderella, apa yang membuatmu sangat ingin datang ke pesta dansa itu?” tanya tikus I.
“Aku tidak ingin hidup menderita lagi. Jika aku menikah dengan pangeran, aku akan menjadi putri. Aku tidak perlu menjalani kehidupan yang menyedihkan ini. Aku tidak harus bangun pagi-pagi untuk mengambil air di sungai atau tidur larut malam karena harus menjahit kelambu. Lagi pula kata orang-orang, pangeran sangatlah tampan. Hanya gadis gila lah yang tidak jatuh cinta pada pangeran. Menikah dengan pangeran adalah impian semua gadis di negeri ini,” jawab Cinderella panjang lebar.
“Baiklah kalau begitu, aku akan meminta tolong temanku untuk membantumu. Sampai jumpa besok malam,” kata tikus I.
“Jangan lupa keju mahal untukku ya?” tikus II menimpali.
“Iya. Selamat tidur, teman-teman,” Cinderella tersenyum sambil menarik selimut yang melingkupi tubuhnya yang terbaring di lantai loteng.
Besoknya, suasana rumah sangat heboh. Semua penata rambut dan wajah terbaik di kota tersebut dipanggil ke rumah untuk merias kedua kakak tiri Cinderella. Tak ketinggalan, si ibu tiri pun turut dirias. “Jangan terlalu menor. Rias kami semua dengan anggun dan elegan. Kami masih memiliki garis keturunan keluarga bangsawan dari kakek suamiku.” Ibu tiri sibuk memberi perintah kepada semua orang. Semua orang kalang kabut bekerja. Si ibu tiri dan kedua anaknya tidak mudah dipuaskan. Mereka harus mengganti tata rambut dan make up belasan kali sebelum ketiganya berkata ‘oke.’ Satu jam menjelang pesta. Semua orang bernafas lega. Semua orang pulang. Tinggal si ibu tiri dan kedua anaknya beserta Cinderella di rumah itu.
”Cinderella, kami akan berangkat ke pesta dansa pangeran sekarang. Jangan pergi kemana-mana. Tugasmu malam ini adalah mengupas semua kacang tanah hasil panenan kita musim ini. Kalau saat aku pulang nanti tugas itu belum selesai, aku akan menjualmu ke pasar budak,” ancam ibu tiri.
“Tapi bu, mana mungkin saya selesai mengupas semua kacang tanah tersebut. Hasil panenan kita kali ini ada 76 karung. Bagaimana mungkin bisa selesai dalam satu malam. Apalagi saya juga masih harus menjahit....” kata-kata Cinderella terpotong oleh tatapan tajam si ibu tiri.
“Jangan pernah berani mengikuti kami datang ke istana. Pangeran akan muntah melihat wajahmu,” hardik si kakak I.
“Iya. Nanti kalau aku jadi istri pangeran, kehidupanmu juga akan lebih baik. Paling tidak, aku akan memberimu ranjang dan selimut yang tebal di loteng,” kata kakak II.
“Apa kau bilang? Istri pangeran? Jangan bercanda. Pangeran pasti akan memilihku. Aku lebih cantik darimu,” kakak I mulai marah.
“Siapa bilang kau cantik. Aku lebih pintar dan seksi darimu. Semua pemuda di kota ini tergila-gila padaku,” kakak kedua menimpali tak kalah seru.
Mereka berdua hampir cakar-cakaran sebelum akhirnya si ibu tiri melerai. “Sudah! Berhenti kalian berdua. Aku menghabiskan dana pensiunku untuk penampilan kalian malam ini. Jangan berani-berani merusaknya tanpa ijinku. Siapa pun yang menjadi istri pangeran bukan masalah. Kita akan tetap kaya raya. Ayo kita berangkat!” si ibu tiri bergegas keluar rumah diiringi kedua anaknya yang masih cemberut.  Mereka naik kereta kuda yang sudah dipesan.  Cinderella melihat kereta melaju pergi sebelum menutup pintu rumah dengan hati pedih.
“Selamat malam nona muda! Mengapa engkau bermuram durja?” sapa sesosok suara yang ternyata adalah milik tikus II.
“Oh, hai kalian! Kalian membuatku kaget. Kalian lihat. Pada akhirnya aku tidak dapat pergi ke pesta dansa. Dari semua gadis negeri ini, hanya aku yang tidak dapat pergi ke istana bertemu pangeran. Bahkan aku harus mengupas semua kacang tanah yang ada di gudang,” Cinderella berkeluh kesah.
“Kami sudah bilang kan kalau kami akan membantumu. Malam ini, kami akan memperkenalkan seorang tamu istimewa. Ini dia ibu peri!” kata tikus I.
Tiba-tiba saja, dalam sekejap mata muncul sesosok ibu-ibu mini cantik agak gemuk dan berbaju putih dengan tongkat hitam di tangan. “Hai, anak manis. Namamu Cinderella, bukan? Aku dengar malam ini kau membutuhkan bantuanku.” Haaahhhh...... Cinderella hanya terbengong melihat pemandangan aneh di depannya.
“Cinderella, katakanlah permasalahanmu kepada ibu peri. Beliau akan membantumu,” perintah tikus II.
“I...iya,” Cinderella ragu-ragu. “Saya ingin datang ke pesta dansa pangeran di istana malam ini. Tapi saya tidak memiliki gaun yang bagus. Lalu, saya juga harus mengupas semua kacang tanah yang ada di gudang malam ini. Saya sangat ingin sekali datang ke istana. Saya sangat ingin bertemu pangeran.”
“Hoooo....hooo...... Permintaan kecil. Gampang.” Sosok yang mengaku bernama ibu peri tersebut kemudian mengayunkan tongkat hitam yang dibawanya. Mendadak, baju kumal yang dipakai Cinderella berubah menjadi gaun cantik berwarna merah nan mempesona. Lebih cantik dibandingkan gaun yang dipakai oleh dua kakak tirinya. Ibu peri juga menghias rambut Cinderella yang tadinya hanya diikat kain seadanya. Dalam beberapa menit saja, sosok Cinderella yang siap mengupas kacang tanah berubah menjadi Cinderella yang siap datang ke pesta dan bersua pangeran. Sebagai sentuhan terakhir, ibu peri menyihir sepasang sepatu kaca indah untuk Cinderella.
“Wooww, Cinderella, ternyata kau lebih cantik dari semua tikus betina yang kukencani selama ini. Besok malam, maukah kau makan malam denganku. Tentu saja dengan keju mahal yang kau bawa dari istana,” tikus II mulai menggombal.  Cinderella masih syok dengan perubahan dirinya.
“Cinderella, kau bisa pergi ke pesta dansa sekarang, tapi aku akan memberitahumu satu hal. Kau harus pulang sebelum pukul 12 malam. Kekuatan sihirku akan hilang saat mencapai tengah malam,” pesan ibu peri.
“Haahh??? Tapi pesta pangeran ini till drop. Jadi bagaimana  bisa aku pergi di tengah-tengah pesta.”
“Malah bagus Cinderella, kau bisa membuat pangeran penasaran padamu. Cara ini selalu berhasil. Jangan lupa juga untuk melepas satu buah sepatumu, biar pangeran semakin penasaran dan mencarimu di penjuru negeri. Benda sihir yang terpisah dari pasangannya tidak dapat kembali ke wujud asalnya. Ini dongeng terkenal di dunia tikus yang diceritakan oleh ibuku dulu. Mereka berdua akhirnya bahagia selama-lamanya,” tikus II sok tahu.  “Satu hal lagi, jangan lupa membawa keju kualitas nomor satu untukku.”
                “Cinderella, kau harus pulang sebelum tengah malam. Kau akan kembali seperti semula saat tengah malam,” kata tikus I. Pelan-pelan, dia memberi isyarat Cinderella untuk menunduk, lalu dia berbisik, “Ibu peri yang ini masih trainee, jadi kekuatannya belum sempurna. Pulanglah tengah malam.” Cinderella hanya mengangguk. Kemudian dia teringat pada kacang tanah yang harus dikupas di gudang.
                “Simsalabim....” ibu peri menyihir sepasukan tikus yang langsung menuju gudang untuk mengupas kacang. Mereka kemudian keluar rumah bersama-sama. “Nah, sekarang bagian terakhir. Aku ingin kalian berdua ikut serta ke istana menemani Cinderella.” Si ibu peri kemudian menyihir sebuah kereta dari labu dengan tikus II berubah menjadi kuda dan tikus I menjadi saisnya. Tikus II sempat meneriakkan ‘Hidup keju ma...’ sebelum berubah menjagi suara ringikan kuda.

∞ж♠ж∞

                Di tengah jalan, terjadi kemacetan panjang menuju istana. Kedatangan semua gadis di pelosok negeri membuat lapangan parkir istana dan jalanan di sekeliling istana penuh dengan kereta kuda. Belum lagi banyaknya masyarakat sekitar istana yang ingin melihat rupa gadis-gadis paling cantik dari seluruh negeri. Beberapa dari mereka bahkan bertaruh siapa yang akan menikah dengan pangeran.
                “Cinderella, jalan ini macet total. Kalau kau menunggu di dalam kereta, kita tidak akan sampai di atas sebelum tengah malam. Sebaiknya kau berlari saja ke istana. Jarak istana tinggal satu setengah kilometer lagi. Pergilah sekarang atau semua usaha kita akan sia—sia. Aku akan mencari tempat parkir di dekat sini,” kata sais kereta jelmaan tikus I.
                “Baik. Nanti tengah malam aku akan kembali kemari.” Cinderella mengangkat bagian bawah gaunnya dan dengan hati-hati menuruni kereta. “Terima kasih banyak, ya, telah mewujudkan impianku untuk berjumpa dengan pangeran,” kata Cinderella sebelum berlari menuju istana.
                Perubahan iklim rupanya juga turut menjadi musuh Cinderella malam ini. Hujan yang biasanya ditunggu benar-benar minta dikutuk malam itu. Hujan sebelum pesta dansa pangeran bukanlah hal yang indah. Sisa-sisa hujan, genangan airnya membuat bagian bawah baju Cinderella kotor. Sepatu Cinderella sudah tidak berbentuk lagi. Sepatu kaca berlapis lumpur rupanya termasuk benda yang dilarang masuk ke istana. Punggawa istana melarang Cinderella membawa sepatunya masuk. Cinderella berniat untuk mencuci sepatu tersebut, namun punggawa istana tersebut terlanjur merazia dan menyegelnya dalam kotak benda-benda berbahaya. Punggawa istana ingin meneliti sepatu kaca tersebut. Tanpa lumpur pun, bagi mereka, sepatu kaca tetaplah benda ajaib. Birokrasi istana mewajibkan Cinderella menunggu dalam waktu lama jika ingin sepatunya kembali. Keburu tengah malam. Cinderella tidak sempat.
                Akhirnya, Cinderella memutuskan memasuki balairung istana tempat pesta tanpa alas kaki. Untunglah gaun yang dia kenakan cukup panjang sehingga telapak kakinya tertutupi. Tetap saja, semua mata tertuju padanya. Pada kecantikan dan juga gaun indah yang dia kenakan. Diperhatikan sedemikian rupa, Cinderella kikuk. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia lupa titipan tikus II untuk membawa pulang banyak keju kulitas nomor satu. Dia hanya terdiam di pojokan.
                Lalu di sana lah. Sosok tinggi kurus mengenakan baju kebesaran istana warna oranye melihat ke arahnya. Sang pangeran. Sang pangeran menatapnya. Sang pangeran melepas pelukannya pada gadis berbaju biru, pasangan dansanya yang segera menghormat dan berlalu. Pangeran berjalan ke arah Cinderella. Cinderella memerhatikan pangeran dengan seksama. Pangeran memang sangat rupawan. Memiliki bentuk wajah yang sangat presisi dengan senyum menawan. Cinderella merasa usahanya tidak sia-sia. Pangeran ini layak diperjuangkan. Pangeran menghampirinya sembari mengarahkan tangan kanannya ke arah Cinderella. “Maukah kau berdansa denganku?” tanya pangeran sopan. Cinderella menyambut uluran tangan pangeran. Mereka berdansa. Cinderella melihat tatapan mata marah dari ibu tiri dan kedua kakaknya.
                Segala hal tidak pernah berjalan sesuai dengan keinginan Cinderella. Saat dia ingin waktu berhenti berputar, waktu malah berlari makin cepat. Jam besar di balairung istana berdentang dua belas kali. Cinderella kaget. Obrolannya dengan sosok paling rupawan di ruangan tersebut terhenti. Dia kaget. Segera dilepasnya pelukan sang pangeran dan segera berlari keluar istana. Cinderella ingat saran tikus II untuk melepas satu buah sepatunya di tangga istana. Tapi dia bertelanjang kaki. Cinderella bingung. Dia mencari benda-benda di tubuhnya yang jumlahnya sepasang. Anting. Yah, anting selalu sepasang. Cinderella melepas anting di telinga kanannya dan melemparnya ke tangga balaiarung. “Semoga pangeran menemukan anting-antingku,” Cinderella berdoa dalam hati. Cinderella mendengar suara pangeran memanggil di belakangnya. Dia segera berlari keluar istana.
                Terengah-engah, Cinderella sampai di tempat tikus I memarkir kereta kuda mereka. Baju yang dia kenakan sudah berubah menjadi baju kumal yang sehari-hari dia pakai. Dia juga tidak dapat menemukan kereta kuda yang tadi dia naiki. Di situ hanya tergelerak seonggok labu. Samar-samar, dia mendengar suara-suara memanggil namanya.
                “Ouch... Jangan menginjakku!”
                “Oh, maaf kalian berdua sudah kembali menjadi tikus ya?”
                “Kekuatan sihir sudah hilang. Jadi ayo kita kembali ke rumah. Angkat kami Cinderella.” Tikus I sudah bersiap menaiki tangan Cinderella sedangkan tikus II masih deg-degan, syok karena hampir terinjak kaki Cinderella. “Bagaimana pesanan kejuku? Apa kau membawa banyak keju?” tanya tikus II setelah kesadarannya pulih.
                “Oh, aduh, maaf, aku lupa,” Cinderella merunduk dan merasa bersalah pada sahabatnya.
                “Aku sudah menduga. Kau bahkan lupa membawa kedua sepatumu. Kau tidak melempar dua-duanya di tangga istana kan? Pangeran tidak akan mau mencari gadis dengan sepatu butut,” tikus II terus ngoceh sambil marah-marah. “Pangeran harus mencarimu agar aku dapat keju-keju yang kuinginkan.”
                “Tenang saja. Aku meninggalkan sebelah antingku di tangga istana. Semoga saja pangeran menemukannya.” Cinderella berdoa dalam hati. Dia berlarian dalam gelap dengan dua ekor tikus dalam pelukannya.
Dua jam kemudian baru dia sampai di rumah. Kereta yang digunakan ibu tiri dan dua anaknya sudah sampai ke rumah lebih dulu. Pelan-pelan, Cinderella membuka pintu rumahnya. Prangg!!!!! Hampir saja sebuah piring mengenai wajah Cinderella. Dua tikus dalam gendongan Cinderella meloncat kabur. Keadaan rumah berantakan. Ibu Cinderella sudah bersiap untuk melempar piring yang kedua.
“Kau anak kurang ajar! Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau datang ke istana. Uang siapa yang kau pakai untuk membeli baju itu? Kenapa kacang-kacang di gudang menjadi berantakan? Aku memintamu untuk mengupas kulit kacang, bukan menghancurkan gudang. Besok pagi-pagi akan menjualmu ke pasar budak. Aku tidak mau lagi melihat wajahmu.” Ibu Cinderella memukul-mukul Cinderella. Kedua kakak tirinya ikut ambil bagian melampiaskan kekesalannya. Puncaknya, mereka mengurung Cinderella di gudang. Tanpa selimut dan tanpa makanan.
Cinderella hanya tergugu. Dia meringkuk di sudut gudang yang hancur berantakan seperti kapal pecah. Sepertinya, para tikus hasil sihir ibu peri purna berpesta dengan semua hasil bumi yang ada. Memang tidak bijaksana mengandalkan bantuan dari seorang peri yang masih trainee. Bukan hanya isi gudang yang berantakan, badan Cinderella pun sakit semua. Dia menimang-nimang satu anting miliknya. Perutnya keroncongan. Di pesta dansa tadi, Cinderella tidak sempat mendekati meja makanan. “Aih, nikmatnya kalau tadi sempat mencuri beberapa potong keju mahal,” Cinderella mengeluh dalam hati, mirip rengekan tikus II.
“Cinderella, kau baik-baik saja,” kata tikus I tiba-tiba.
“Kalian berdua?  Aku tidak apa-apa. Bagaimana keadaan kalian. Piring tadi tidak mengenai kalian kan?” Cinderella mencoba bangkit dan memerhatikan sahabat-sahabatnya.
“Hampir saja. Untung saja aku piawai meniru gerakan Keanu Reeves di Matrix,” sahut tikus II.
“Cinderella, ini kami bawakan sepotong kue untukmu. Makanlah.” Tikus I meletakan sepotong kue di depan Cinderella.
“Terima kasih banyak, teman-teman. Kalian baik sekali. Maafkan aku ya, aku tidak dapat membawakan keju yang lezat untuk kalian. Malam ini mungkin adalah perjumpaan kita yang terakhir. Besok mereka akan menjualku ke pasar budak. Aku tidak tahu lagi apakah bisa bertemu kalian atau tidak.” Kedua tikus itu bergerak memeluk Cinderella.

∞ж♠ж∞

Paginya, terjadi kehebohan besar. Para pengawal dikirim ke penjuru negeri untuk mencari gadis bergaun merah yang tengah malam kemarin kabur dari pesta dansa pangeran. Pagi-pagi buta, para pengawal istana sudah sampai ke kota tempat Cinderella tinggal. Mereka menggelar pengumuman di pasar, tempat hampir semua warga kota berkumpul di waktu pagi. Mereka membawa lukisan Cinderella. Cinderella yang mereka cari juga ada di tempat itu. Sedang ditawarkan kepada seorang penjual budak oleh si ibu tiri. Cinderella yang babak belur pagi itu sangat jauh berbeda dari potret cantik dalam lukisan. Tak ada yang mengenali. Hanya si ibu tiri yang mencibir penuh kebencian.
Tidak menyangka istana akan bertindak sedemikian cepat, ibu tiri batal menjual Cinderella. Dia mengurung Cinderella di dalam loteng. Dia tidak mau Cinderella ditemukan. Harapannya, pangeran akan mengadakan pesta dansa lagi jika calon istri yang terpilih tidak muncul.
Cinderella hanya meringkuk di loteng sambil menimang-nimang sebelah anting yang dia miliki. Beberapa kali si ibu tiri dan anak-anaknya melayangkan pukulan ke tubuh Cinderella. Hanya seperti itu setiap hari. Untung ada duo sahabat kecilnya yang siap membuatnya kembali tersenyum.
Beberapa hari kemudian, muncullah beberapa prajurit istana ke kediaman ibu tiri Cinderella. Mereka akan melakukan pencarian karena gadis yang kabur tengah malam di pesta dansa pangeran belum juga ditemukan. Mereka berniat menggeledah isi rumah. Penggeledahan itu dilakukan ke seluruh penjuru negeri. Dan sampailah mereka ke kediaman Cinderella. Si ibu tiri berusaha meyakinkan para prajurit bahwa orang yang mereka cari tidak ada di rumah tersebut.
                Prajurit mendesak masuk ke dalam rumah. Melakukan penggeledahan. Cinderella mendengar ada suara orang masuk rumah dan berusaha menggedor-gedor pintu loteng yang terkunci. Para prajurit mendengar dan berusaha mencari asal suara. Ibu tiri meyakinkan bahwa itu hanyalah suara kucing yang dikurung karena mencuri ikan. Para prajurit tidak percaya dan menuju ke arah loteng. Mereka membuka paksa pintu loteng dan menemukan Cinderella. Mereka membebaskan Cinderella. Para prajurit sangat marah dan menangkap ibu tiri serta anak-anaknya karena telah melakukan penganiayaan terhadap Cinderella. Mereka membawa ibu tiri Cinderella beserta kedua anaknya. Sebelum para prajurit itu pergi, Cinderella mengatakan bahwa orang yang mereka cari adalah dirinya. Cinderella menitipkan sebelah anting yang dia miliki untuk diserahkan kepada pangeran,”Pangeran akan mengenaliku saat kalian menyerahkan anting ini. Kami pernah berdansa bersama.”
Beberapa waktu kemudian, Cinderella menyesal telah menyerahkan anting tersebut kepada para pengawal. Bagaimana kalau para pengawal itu malah menjual anting itu? Padahal anting itu adalah bukti satu-satunya keberadaan dirinya di malam pesta dansa itu. Andai saja penjaga istana tidak merazia sepatu kaca miliknya, nasibnya pasti tidak akan setragis ini.
                Singkat cerita, prajurit –prajurit tersebut adalah prajurit jujur yang menyerahkan anting milik Cinderella kepada pangeran. Pangeran ingin bertemu dengan Cinderella. Kedua saudara dan ibu tiri Cinderella telah dipenjara karena tindakan penganiayaan terhadap dirinya. Waktunya untuk ‘hidup bahagia selama-lamanya’ telah tiba. Namun ternyata tidak. Pangeran lupa pada Cinderella.
                “Prajurit berkata bahwa kau adalah gadis dalam lukisan itu. Gadis yang kabur pada malam pesta dansa. Benarkah itu?” tanya pangeran ketika Cinderella menemuinya di istana. Kali ini pun pangeran tetap berpakaian dengan warna oranye. Mirip warna bunga tulip yang tumbuh di kebun istana.
                “Benar pangeran.”
                “Sejujurnya aku tak dapat mengingatmu. Kau begitu berbeda dengan gadis dalam lukisan. Dia sangat cantik. Kau, berantakan dengan pakaian compang-camping. Bagaimana aku bisa percaya bahwa kau adalah gadis itu? Kalian berdua sangatlah berbeda.”
                “Dasar pangeran blo’on. Aku kan sudah meninggalkan sebelah antingku. Coba kalau kau lebih teliti sedikit, kau pasti menemukan antingku itu. Atau coba aku tidak kehilangan sepatu kacaku,” batin Cinderella. Di dunia nyata, dia hanya diam. Menunduk.
                “Tapi mengingat banyak hal aneh yang terjadi malam itu. Mulai dari kau yang kabur dari istana, sepatu kaca hasil razia petugas yang tiba-tiba berubah menjadi sepatu tua, sampai kereta kuda di jalan depan istana yang tiba-tiba menghilang. Aku punya banyak saksi yang melihat peristiwa ganjil tersebut. Jadi aku asumsikan bahwa kau menggunakan sihir ketika datang ke pestaku dulu. Benar begitu?” tanya pangeran.
                “Benar, pangeran.” Cinderella bingung harus mengatakan apa lagi.
                “Kau, apa kau tidak tahu bahwa sihir dilarang penggunaannya di negeri ini?” Pangeran mengintimidasi.
                “Hah? Benarkah itu?” Cinderella kaget. Kenapa dua tikus temannya tidak pernah memberitahunya kalau sihir itu ilegal? Bekerja mengupas kulit kacang sepanjang hari membuatnya tidak mengikuti perkembangan dunia.
                “Kau pasti tidak tahu karena terlalu lama dikurung oleh ibu dan saudara-saudaramu. Baiklah. Karena aku telah memilihmu, aku akan bertanggung jawab atas pilihanku. Meskipun sebenarnya kau layak dihukum, aku akan memberimu kesempatan untuk turut bersaing memperebutkan posisi sebagai salah satu istriku,” pangeran melanjutkan.
                “Salah satu istri?” Cinderella berusaha mengecek pencengarannya.
                “Apa yang ini kau juga belum tahu? Aku telah memilih tujuh orang gadis dari seluruh penjuru negeri. Dari tujuh orang tersebut, akan terpilih empat orang yang akan menjadi istri-istriku. Ada komite tersendiri untuk melakukan seleksi. Kau bisa datang besok untuk seleksi,” kata pangeran sambil tersenyum.
                “Haaahhh????” Cinderella bengong. ‘Hidup bahagia selamanya’ rasanya masih jauuuhhh sekali.

∞ж♠ж∞

                Pagi-pagi, Cinderella sudah menuju istana. Cinderella telah berpamitan  dan menitipkan rumah pada penjagaan tikus-tikus sahabatnya. Sesampainya di istana, sudah menanti keenam calon lainnya. Dia calon ketujuh. Dari tujuh kandidat tersebut, akan terpilih empat orang untuk membersamai sang Pangeran Oranye. Mereka bertujuh saling berkenalan. Urutan mereka berdasarkan daftar seleksi adalah : 
1.       Hijau, sosok gadis cantik nan periang yang mudah akrab dengan siapa saja. Sangat cerewet namun baik hati dan suka menolong. Tipe orang yang dapat membuat suasana menjadi ceria dalam sekejap.
2.       Emas, sosok gadis remaja yang sangat ingin menjadi pusat perhatian. Selalu ingin diperhatikan oleh lawan bicara. Sangat mudah bergaul. Tipe ratu pesta yang selalu dikerubuti orang. Selalu berusaha dekat dan tahu banyak hal tentang Pangeran Oranye.
3.       Indigo, sosok gadis cantik nan kalem yang lemah lembut dan baik hati. Sangat rajin dan tekun. Sama seperti emas, tahu banyak hal tentang Pangeran Oranye.
4.       Rosemary, sosok gadis cantik yang tahu pasti apa yang dia mau. Tipe cewek cerdas dan berkemauan keras. Lulusan sekolah keuangan. Berasal dari keluarga bangsawan istana. Teman masa kecil pangeran oranye. Ada gosip yang bilang bahwa Rosemary adalah cinta pertama pangeran oranye.
5.       Abu-abu, sosok gadis pendiam dan dewasa. Sosok gadis keren yang jadi panutan orang-orang disekitarnya. Tenang namun menghanyutkan. Jadi pemimpin diantara ketujuh orang yang ikut seleksi.
6.       Peach, sosok paling cantik diantara ketujuh kandidat. Cerdas dan berwawasan luas namun kadang kala sangat berisik. Paling ahli di bidang politik dan kebijakan istana. Sosok yang bakalan dipilih banyak orang kalau nyalon gubernur.
7.       Cinderella, sosok paling berantakan diantara semua kandidat. Motivasi utama jadi istri pangeran adalah harta. Baru tahu nama asli Pangeran Oranye beberapa detik yang lalu. Hampir masuk penjara gara-gara menggunakan sihir ilegal. Terpilih menjadi kandidat karena belas kasihan sebagai korban KDRT.
                Setelah mengerjakan semua psikotes dan tes-tes lainnya, semua kandidat, satu-satu diminta masuk ke dalam ruangan untuk wawancara individu. Pertanyaan yang muncul seputar kesiapan menjadi ibu negara, mendampingi pangeran, adaptasi kehidupan di istana, serta kegiatan yang akan dilakukan saat menjadi istri pangeran nantinya. Cinderella yang motivasi utamanya harta jelas-jelas bingung dengan pertanyaan ini. Belum lagi ketika dicecar mengenai semua tindakan kriminal yang telah dia lakukan. Dia pasrah. Kandidat lainnya sepertinya cukup puas dengan jawaban-jawaban yang sudah mereka jawab. Pusing di dalam ruangan, Cinderella keluar ruangan.
                Pangeran Oranye berdiri di tengah taman. Cinderela mendekatinya.
                “Selamat siang, pangeran.”
                “Selamat siang, Cinderella. Bagaimana tes yang kau lakukan?”
                Cinderella akan tersenyum. “Apa pangeran akan memilih saya?”
                “Apa kau akan memilihku, Cinderella? Dengan semua kekayaan dan tahta yang kupunya, apa kau akan memilihku? Jika kau tidak tinggal dengan ibu tiri dan dua saudara yang kejam, apa kau akan memilihku, Cinderella?” Pangeran Oranye berjalan pergi.
                “Mungkin tidak,” jawab Cinderella dalam hati. Namun bibirnya bergerak berkata,”Saya akan menunggu hasilnya tanggal 24 Januari 2013, pangeran.” Lalu Cinderella berbalik dan pergi.

Bandung, 14 Januari 2013
Rizki Darmadi Mayangsari


               

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. mbak iki lucuk banget!! :))))) Entah kenapa baca bagian Rosemary lulus sekolah keuangan aku ngampet ngguyu tapi berhubung ini pagi buta kudu ditahan :D

    BalasHapus
  2. eh itu orangnya ada beneran lho di dunia nyata.

    BalasHapus
  3. Bwahahahahaha.. Mbak Kiks dapet inspirasi dari mana deh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari kehidupan sehari-hari doang kok. Hehehehehehe.....

      Hapus