Nyoblos Calon Pemimpin Ganteng

Berita akhir-akhir ini panas ya gara-gara Pilkada Jakarta. Saya mau bahas itu juga sih, tapi tenang aja. Dijamin ngga akan panas, apalagi menyeret-nyeret agama. Janji deh. Saya malah mau ngomongin kandidat yang ganteng. Hehehehe... :)

Di antara kampanye pilkada pasti ada satu terselip yang ngomong tentang betapa gantengnya salah satu kandidat tertentu. Bukan hanya pas 2016 ini kok. Pas Pilpres 2014 kemarin pun ada bahasan tentang kandidat yang ganteng. Jauh sebelum ini, pas jaman saya kuliah S1 dulu, pernah ada kampanye untuk menyoblos calon pemimpin BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang ganteng. Bahkan, pada waktu itu, saya dan teman-teman termasuk beberapa orang yang mengkampanyekan kandidat ganteng tersebut. Siapa kandidat tersebut? Wallahu Allam, saya ngga kenal sama sekali. Soalnya ini cuma buat lucu-lucuan aja. Kampanye itu dimulai gara-gara kami semua sudah jenuh dengan kandidat satunya lagi. Kandidat satunya lagi itu berasal dari partai yang berafiliasi dengan salah satu partai politik di Indonesia. Satu lagi, partai tersebut selalu menang Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa) tiap tahun. Nah, masalahnya kami ngga terlalu setuju dengan beberapa program mereka. Selain itu, mereka bisa menggerakkan demo mahasiswa atas nama kampus, padahal kan, ngga semua mahasiswa sejalan dengan mereka. Jadi, waktu itu, kami bertekad untuk membuat partai tersebut kalah dalam Pemira. Tapi kami juga ngga terlalu serius untuk ikut politik praktis, ya akhirnya keluarlah lucu-lucuan berupa ajakan untuk memilih kandidat lawan yang kebetulan ganteng tersebut.

Setelah penghitungan suara diumumkan, seperti yang bisa diduga bersama, kandidat ganteng tersebut kalah. Partai petahana yang menang. Apakah kampanye membawa-bawa kegantengan kandidat ngga efektif? Ngga tahu. Saya sendiri waktu itu memilih golput, biar kalo partisipasi mahasiswa sedikit, Pemira bakalan dievaluasi oleh rektorat. Ngga tahu gimana teman-teman saya. Sebenarnya saya sempat baca, program-program si kandidat ganteng itu cukup menarik sih. Program-programnya asyik dan banyak kegiatan budaya. Sayang dia kalah. 

Nah, jadi pertanyaan saya belum terjawab, apakah orang-orang akan memilih calon pemimpin yang ganteng? Dulu, saya pernah membaca skripsi kakak angkatan saya. Dia melakukan eksperimen dengan responden mahasiswa untuk memilih dua orang pemimpin. Satu calon pemimpin yang kurang menarik, satu lagi yang menarik. Hasil eksperimen itu, saya lupa angkanya berapa, tapi hasilnya calon pemimpin yang menarik memperoleh lebih banyak suara dibandingkan calon pemimpin yang kurang menarik. 

Sayangnya, hasil itu kan hanya dalam eksperimen dan responden hanya membayangkan situasinya. Si pemimpin yang mereka pilih tidak akan berpengaruh dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengan Ketua BEM. Pengaruhnya dalam kehidupan kami, mahasiswa, tidak terlalu besar. Tapi dalam kehidupan nyata, untuk memilih presiden atau gubernur, apakah mungkin orang-orang akan memilih cuma karena ganteng doang? Apakah masyarakat akan memilih orang yang bertanggung jawab terhadap belanja negara, pembangunan, jaminan kesehatan, pendidikan, dan sosial hanya karena ganteng?

Dulu, saya pernah menulis esai untuk Kelas Fashion, Beauty, & Fame mengenai halo effect (dan saya dapat nilai A! di kelas ini). Halo effect ialah tendensi psikologi yang membuat orang-orang menilai seseorang hanya berdasarkan satu sifat tertentu yang digeneralisasikan dan disimpulkan mempunyai sifat lain yang secara keseluruhan menarik. Fenomena halo effect ini terjadi ketika kita mengatribusikan seseorang yang menarik secara fisik juga memiliki sifat-sifat menarik lainnya, seperti murah hati, ramah, pintar, bisa dipercaya, sabar, mandiri, dan hangat. Halo effect ini terjadi dalam berbagai ranah kehidupan. Jika informasi yang kita miliki sedikit, maka kita cenderung untuk menyimpulkan sifat seseorang secara menyeluruh hanya berdasarkan apa yang bisa dilihat, seperti penampilan fisik, komunikasi non verbal, dan perilaku yang nampak. Sebenarnya esai saya membahas halo effect dalam ranah privat, profesional, dan publik, tapi tulisan ini kita bahas yang ranah politik aja ya. Esai saya ada 8 halaman. Capek kalo ditulis dan diterjemahin semua di sini. :))

Nah, karena adanya halo effect, apakah pemimpin yang lebih menarik akan mendapatkan lebih banyak suara? Beberapa penelitian menunjukan bahwa kandidat yang menarik juga dianggap lebih berkompeten, lebih berkualifikasi, bisa dipercaya,  memiliki pengetahuan yang lebih luas, dan memiliki kemampuan memimpin yang lebih baik dibandingkan dengan kandidat yang kurang menarik. Halo effect ini terjadi lebih besar pada kandidat laki-laki dibandingkan kandidat perempuan. Sayangnya, halo effect ini juga menyebabkan kandidat tidak bisa menunjukkan kemampuannya karena adanya kesalahan dalam penilaian. Sebagai contohnya, kandidat ganteng dalam pemilihan Ketua BEM di kampus saya tadi. Program-programnya yang keren tidak terlalu diperhatikan karena orang-orang lebih fokus pada kegantengannya. Kualifikasinya juga ngga diperhatikan orang. Padahal mungkin saja si mas ini bakalan jadi pemimpin yang baik.

Lalu, bagaimana caranya mengatasi halo effect, hmmm... harus mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi mengenai kandidat yang bersangkutan. Memang sih mungkin bakalan terjadi eror dalam penilaian, dua kandidat melakukan hal yang sama, bisa jadi yang mendapat poin lebih adalah kandidat yang lebih menarik. Bisa jadi juga faktor menarik secara fisik menurunkan nilai si kandidat, misalnya karena dia cakep, lalu dianggap jual tampang doang oleh kubu lawan. Dengan mencari informasi tentang sifat-sifat lain kandidat yang bersangkutan, maka celah halo effect tentu akan berkurang. Halo effect hanya terjadi jika informasinya minimum sehingga sifat yang belum diketahui hanya disimpulkan dari informasi yang ada. Jika kita memiliki  informasi yang lebih banyak, akan lebih banyak lagi sifat-sifat dan kemampuan si kandidat yang kita ketahui. 

Jika ada yang bertanya pada saya, apakah penampilan menarik itu berlaku general? Bukankah ada orang-orang tertentu yang menganggap menarik ciri-ciri fisik tertentu? Iya sih, tapi ciri-ciri fisik yang menarik itu berlaku umum. Dulu pernah ada penelitian, lupa siapa yang meneliti, tapi kalo mau baca ada di Buku Social Psychology-nya Baron & Byrne, 2003, yang mengumpulkan aktor-aktor Hollywod untuk dirating level attractiveness-nya. Penelitiannya pun dilakukan di beberapa negara. Hasilnya, yang menduduki peringkat 1 orang paling menarik dalam penelitian itu yaitu Brad Pitt (penelitian itu dilakukan akhir atau awal 2000-an, pas jamannya Brad Pitt lagi ganteng-gantengnya). Kemudian penelitian itu membandingkan hasilnya di beberapa negara. Hasilnya, ciri-ciri fisik wajah yang menarik itu sama di tiap negara, yaitu laki-laki yang dianggap menarik cenderung memiliki ciri-ciri fisik wajah feminin yang banyak. Sebagai contoh, penelitian itu membandingkan Brad Pitt dengan Jean Claude Van Damme, Brad Pitt dianggap lebih menark karena memiliki ciri-ciri fisik feminin yang lebih banyak sehingga menimbulkan kesan manis dan lembut. Van Damme dianggap kurang menarik karena memiliki ciri-ciri fisik maskulin yang lebih banyak, misalnya rahang yang kokoh, sehingga terkesan kasar dan keras.

Brad Pitt dan Van Damme

Dulu, menurut saya penelitian ini lucu sekali. Pada waktu itu, saya sampai ngakak banget, soalnya, peneliti yang lain tuh pada sibuk nyari vaksin kanker, HIV, mengatasi pemanasan global, atau mencari kehidupan lain di luar angkasa, eh, Peneliti Psikologi malah ngumpulin cowok-cowok ganteng sedunia dan merating kegantengan mereka. Tapi ini penting kok. Soalnya pengaruh attractiveness ini dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali. Yang paling mengagetkan sih dalam bidang profesional. Saya pernah baca penelitian yang menunjukan bahwa tingkat attractiveness CEO berkaitan erat dengan laba perusahaan. Hayo, kok bisa sih padahal kan laba perusahaan ditentukan banyak orang, masa ketampanan CEO ngaruh sih? Ternyata, CEO yang menarik akan memberikan kesan baik dan dapat dipercaya. Hal ini tentu berguna saat menjalin kerjasama dengan pihak lain. Konsumen pun lebih percaya pada perusahaan dengan CEO yang terkesan baik dan dapat dipercaya. Yak, hasilnya, laba perusahaan meningkat. Kalo penasaran dengan penelitian yang lainnya, coba aja cari jurnal tentang attractiveness. Pasti muncul seabreg-abreg.

Jadi, kesimpulan dari tulisan ini apa? Eh bentar, aku tadi ngomongin apa, oh iya, halo effect. Jadi, saat pemilihan umum, sangat mungkin sekali orang memilih pemimpin hanya karena halo effect. Ya biar ngga halo effect gimana, cari informasi lebih banyak. Jadi, untuk orang-orang yang ngga terlau terpapar informasi, halo effect ini sangat mungkin terjadi. Dulu, pernah pas Pilkada di suatu daerah lain di negeri ini, ibu saya mendukung kandidat yang merupakan artis. Ibu saya ngga kenal si artis secara pribadi, tapi di artis ini imej-nya baik dan terkesan cerdas. Akhirnya si artis ini menang, nah, pas saya ngobrol dengan beberapa teman dari daerah tersebut, katanya si artis ini ngga terlalu kompeten memimpin. Si artis ini pun gagal terpilih pada pemilihan periode selanjutnya. Ibu saya terkena halo effect fallacy, tampilan menarik dan imej tanpa cela sebagai artis bukan jaminan bahwa orang tersebut bisa memimpin dengan baik. 

Tuh kan, ngga bahas agama. Bahkan ngga bahas Pilkada DKI.
Saya lapar. Mau nyari makan dulu. 

Kiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar