Robin Williams dan Bunuh Dirinya

Draf tulisan ini sudah saya tulis sejak Bulan Agustus tahun lalu. Iya, setelah saya tahu bahwa Robin Williams sudah berpulang karena bunuh diri. Iya, bunuh diri. Lah, beberapa hari sebelumnya saya malah nonton Jumanji yang diputer di TV. Apalagi, saya membaca kabar itu sewaktu ngenet di perpus pas hari ulang tahun saya. Akhirya kemarin, saya bela-belain datang ke bioskop dan nonton Night at the Museum 3 yang ada Robin Williams-nya. T_T

Saya sedih banget soalnya saya ngerasa cukup dekat sama Robin Williams. I mean emotionally. Iya, emang cuma sepihak karena saya nge-fans dia aja. Robin Williams mah ngga kenal sama saya. Saya ngerasa, saya tumbuh bersama film-film Robin Williams. Saya, dulu banget jaman SD, malah mikir Robin Williams dan Robby William (yang nyanyi Feel) itu orang yang sama. Iya, dulu jaman SD sudah ada Mrs. Doubtfire. Lalu ada Jumanji juga. Makin kesini, makin tahu ada Good Will Hunting, Dead Poets Society, dan Night at the Museum. Iya, saya juga akhirnya nonton One Hour Photo, padahal dari dulu ngga berani nonton, soale jadi sedih ngelihat muka Robin Williams yang sedih dan kesepian banget di film itu. Kejutan, kemarin pas ngubrak-ngubrik file di eksternal disk, nemu file film Awakenings yang ada Robin Williams-nya juga. :)

Tapi tetep saja lho, kalo inget Robin Williams bunuh diri, rasanya sedih banget. Rasanya, kok saya ngga penting gitu ya buat beliau. Iya, memang saya ngga penting. Wong kenal aja nggak. Tapi, kalau pun misalnya Robin Williams butuh bantuan, pasti bakalan saya tolongin kok. Apa pun asal saya bisa. Harusnya, kalau pun bukan saya (misalnya karena saya jauh, ngga tahu ngubunginnya gimana, atau ngga kenal), kenapa ngga minta tolong orang terdekat saja. Soalnya, sedihnya dobel-dobel karena beliau meninggal dengan bunuh diri. Pertama, berarti ngga bakalan ada Robin Williams lagi di dunia ini. Ngga ada di manapun. Kedua, kok tega ninggalin saya atau penggemarnya yang lain. Ketiga, kalau ada masalah, kenapa tidak cerita atau minta tolong profesional saja? Saya aja jadi ngerasa ngga berguna gitu. Gimana coba dengan orang-orang terdekat. 

Oh ya, setidaknya nih ya, peristiwa ini bikin saya memikirkan kembali salah satu rencana hidup saya. Dulu, saya ingin mengakhiri hidup saya dengan bunuh diri. Iya, kamu ngga salah baca. Bunuh diri. Dulu, saya berfikir, orang yang bunuh diri itu keren sekali. Mereka bisa menentukan sendiri kapan waktunya mereka bilang cukup dan berhenti hidup. Iya, mereka sendiri yang memutuskan kapan harus mengakhiri hidup. Tapi sekarang, pendapat saya berbeda.Orang yang bunuh diri itu pengecut. Mereka lari dari tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tidak menyebabkan orang lain bersedih. Tanggung jawab untuk orang-orang lain di muka bumi. Jika memang merasa berkecukupan dengan hidup, kenapa tidak membaginya dengan orang yang kurang beruntung. Tanggung jawab untuk menyibak rahasia semesta juga. Kalau cukup dengan dirinya, kenapa tidak belajar hal lainnya. Pindah jalur jadi astronot, arkeolog atau memantabkan ilmu. Freud misalnya, kalo dulu tidak memutuskan untuk disuntik euthanasia, mungkin akan merevisi beberapa teori psikoanalisisnya atau bahkan makin membabi buta mengembangkan psikoanalisisnya. Ngga tahu. Tapi sepertinya masih banyak yang bisa dilakukan oleh seorang Freud. Robin Williams juga.

Iya, saya dulu juga berfikir ngga akan sesedih ini. Toh, hidup kan memang cuma bentar. Pernah, satu orang dosen saya cerita mengenai salah satu temannya yang bunuh diri beberapa menit setelah bermain catur dengannya. Mereka bermain catur di tempat kerja mereka, lalu si teman itu pamit ke belakang. Karena lama ngga balik-balik, dosen saya nyari ke belakang dan si teman sudah menggantung diri dengan tali. Dosen saya berkata, hal paling sedih adalah menunggu polisi dan petugas medis 911 datang karena aturan di AS, mereka tidak boleh menyentuh korban. Jadi dosen saya hanya bisa menyaksikan temannya tergantung di tali. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Iya, tidak bisa berbuat apa-apa adalah siksaan paling besar. 

Atau itu karena depresi? Depresi dan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Iya, seperti saya ngga bisa nonton One Hour Photo karena Robin Williams terlihat sedih, mungkin di dunianya sana, orang-orang juga menginginkan Robin ini untuk selalu ceria. Ngga peduli walau dia sedang sedih, patah hati, sakit gigi, atau malas ngomong. Iya, kadang tuntutan dunia sosial memang menyeramkan. 

 Robin Williams (Sumber : Wikipedia)

Saya ngga tahu bagaimana menutup tulisan ini. Jujur. Rasanya ini pos yang dipikir paling lama dan paling sulit ditulis. Selamat jalan Robin Williams. Terima kasih sudah menyadarkan aku. :)

Kiki


Tidak ada komentar:

Posting Komentar