3 Alasan Bisnismu Tidak Naik Kelas

By Miss Rain - 21.38

Pencatatan Keuangan (Sumber: @helloquence)

'You can't manage what you can't measure.'

Kalimat dari ahli manajemen Peter Drucker di atas, atau dalam bahasa Indonesia berarti anda tidak dapat mengelola apa yang anda tidak dapat ukur sangat lah penting, terutama bagi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang baru saja memulai bisnisnya. Banyak kesalahan para pemula terkait dengan pencatatan keuangan. Bagaimana anda akan dapat mengembangkan usaha anda, jika anda tidak tahu apakah usaha anda untung atau merugi? Berapa persen marjin keuntungan dan kerugiannya? 

Biasanya, para pemula memiliki ide yang brilian, namun ketiadaan laporan keuangan membuat bisnis mereka tidak berkembang atau bahkan gagal dan merugi. Berikut ada beberapa kesalahan para wirausaha pemula yang ingin mendirikan usaha, terutama UKM:  

1. Tidak melakukan pencatatan keuangan
Pencatatan keuangan wajib hukumnya bagi semua usaha, baik usaha kecil skala rumah tangga maupun perusahaan besar sekelas Amazon atau Samsung. Dengan adanya pencatatan keuangan, akan jelas terlihat seberapa besar modal awal yang masuk, bagaimana perputaran uang, utang, dan berapa keuntungan yang didapat dan lainnya. Semua data keuangan ini dapat menjadi panduan untuk mengembangkan usaha menjadi lebih besar lagi. Sebaliknya, jika terjadi kerugian, laporan keuangan dapat menjadi salah satu data untuk menganalisis penyebab kerugian dan bagaimana mengatasi kerugian tersebut. 

Banyak usaha kecil yang tidak melakukan pencatatan keuangan. Para pelaku usaha berpikir bahwa bisnis mereka untung karena tetap ada perputaran uang setiap hari. Nyatanya, utang menumpuk dan barang tidak laku. Pencatatan keuangan yang disiplin akan mencegah semua hal ini terjadi. Jika terjadi kerugian, akan segera diketahui dan dapat segera dicari solusinya. 

Pencatatan keuangan yang teratur juga memudahkan bisnis untuk naik kelas. Jika ada pencatatan keuangan, maka akan jelas berapa keuntungan usaha. Keuntungan usaha ini dapat digunakan untuk mengembangkan usaha, misalnya dengan menambah karyawan, memperbarui mesin produksi, menambah cabang di kota lain, dan lain sebagainya. Jika pencatatan tidak jelas, maka pelaku usaha bisa saja menghambur-hamburkan keuntungan perusahaan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu atau kurang strategis bagi kemajuan usaha.

2. Mencampur uang usaha dengan uang pribadi
Kesalahan kedua ini juga merupakan efek dari kesalahan pertama, tidak melakukan pencatatan keuangan. Akibat tidak adanya pencatatan keuangan yang disiplin, pelaku usaha sering kali mencampurkan uang pribadinya dengan uang usaha. Uang usaha kadang digunakan untuk kepentingan pribadi atau sebaliknya, uang pribadi digunakan untuk keperluan usaha.

Jika pelaku usaha melakukan ini, bisa jadi usaha seolah-olah memberikan untung, padahal sebenarnya, aset pribadi ikut masuk ke dalamnya. Jika terjadi kerugian yang besar, uang dan aset pribadi bisa hilang. Pencatatan keuangan yang teratur akan menghindari pencampuran uang pribadi dengan uang usaha. Selain itu manfaat utama pemisahan uang pribadi dengan uang usaha ialah jika terjadi kerugian pada usaha, maka aset pribadi tetap aman dan masih menjadi milik pribadi. Tidak ikut hilang bersama usaha yang merugi. Kita semua berharap usaha untung, namun ada baiknya mempersiapkan yang terburuk untuk segala hal, termasuk bisnis.

3. Tidak menggaji diri sendiri
Kesalahan lain yang dilakukan oleh para pelaku usaha baru ialah tidak menggaji diri sendiri. Biasanya, para pelaku usaha menggaji karyawan, namun mereka tidak menggaji diri mereka sendiri. Mereka sering kali hidup dari keuntungan usaha. Padahal keuntungan usaha seharusnya digunakan untuk mengembangkan usaha agar bisa naik kelas. 

Hal inilah yang menyebabkan usaha kecil dan menengah (UKM) cenderung stagnan dan tidak naik kelas. Keuntungan perusahaan digunakan untuk keperluan sehari-hari usaha dan pelaku usaha. Padahal seharusnya, pelaku usaha juga mendapatkan gaji, sama seperti ketika mereka bekerja pada perusahaan lain. Pada awal usaha, mungkin gaji bisa berupa utang karena usaha masih membutuhkan modal yang besar, namun, utang tersebut harus tetap dicatat. Jika perusahaan sudah menunjukkan kemajuannya dan menghasilkan keuntungan yang cukup untuk kegiatan operasionalnya, maka utang dapat dibayarkan kepada pemilik. 

Adanya gaji ini juga agar jelas berapa keuntungan usaha yang dikelolanya. Semua usaha, tenaga, pikiran, dan keringat pelaku usaha akan dihargai. Selain itu, pemilik bisa lebih profesional dalam mengelola usahanya karena dia juga mendapatkan gaji. 


Meskipun sudah banyak dipaparkan banyaknya keuntungan adanya laporan keuangan, sayangnya, masih tidak banyak pelaku usaha yang melakukan pencatatan keuangan. Ada beberapa alasan, misalnya: malas, bingung, ribet, tidak memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, dan segudang alasan lainnya. Padahal, saat ini tersedia software akuntansi yang mudah, murah, dan praktis, yaitu Accurate Online

 
Accurate Online (Sumber: Accurate.id)

Accurate Online merupakan software akuntansi buatan anak bangsa yang mampu memudahkan pencatatan transaksi hingga menghasilkan laporan keuangan dalam waktu singkat. Anda tidak perlu sekolah akuntansi untuk mampu memahamai laporan keuangan Accurate Online. Tak perlu repot dengan laporan keuangan. Anda cukup kembangkan saja ide bisnis anda. Selain itu, Accurate Online memiliki satu harga untuk semua paket sehingga lebih murah. Jadi usaha anda #KapanNaikKelas?

  • Share:

You Might Also Like

0 comments