His Story




blue-valley.png
#tantangannulis #bluevalley (Gambar dari sini)

Sudah hampir setahun sejak pertama kali aku melihatnya. Sama seperti waktu itu dan tiap pagi setelahnya, aku selalu di sini, menunggunya. Dia akan berjalan, dengan tongkat di tangan kanan dan tas besar di bahu kirinya. Aku tahu dia akan berangkat bekerja sebagai pemijat tuna netra di Panti Sosial Tuna Netra di Bandung. Saat pertama kali melihatnya, setelah membantu menyeberangkan, aku mengikutinya berjalan. Aku khawatir, dia tidak akan bisa sampai di tempat kerjanya. Kuparkir motor di depan sebuah toko daerah Cicendo, lalu mengikutinya berjalan ke utara. Aku khawatir dia akan bingung di perempatan Cicendo-Pajajaran. Namun kekhawatiranku tidak beralasan, dia cukup terlatih. Di perempatan itu dia berbelok ke barat di Jalan Pajajaran. Aku melihatnya berhenti berjalan cukup lama. Lalu, tiba-tiba saja, seorang bapak bersegaram petugas keamanan berjalan dari arah seberang datang, menuntunnya, dan membantunya menyeberang. Jadi itulah tempat kerjanya, Wiyata Guna. Itu bukan nama yang asing buatku. Sebagai seorang penyandang cacat ganda, rungu dan wicara, aku dan teman-temanku sudah terbiasa dengan berinteraksi dengan sesama penyandang cacat lainnya di kota ini, salah satunya komunitas teman-teman tuna netra. Aku ingat, mereka punya band yang bagus sekali. Memang, aku tak bisa mendengar musik mereka, namun penampilan dan atraksi mereka luar biasa. Hampir mirip dengan penampilan band Nidji yang pernah kulihat di TV. Apa dia juga anggota band ya? Kata teman-temanku, keyboardist  band mereka cantik sekali. Apa itu dia? Atau dia seorang pemijat tuna netra di sana? Melihat penampilannya yang sederhana dan biasa saja, ini lebih mungkin.

Pagi itu, aku berjalan kembali ke arah Cicendo, tempatku menitipkan motor. Meskipun tuna ganda, rungu dan wicara sejak lahir, aku mampu mengendarai sepeda motor dengan piawai. Memang keterbatasan ini menyulitkanku, namun pada akhirnya aku memberanikan diri untuk naik motor. Hidup di kota ini tanpa motor itu susah. Kendaraan umum di sini mahal, belum lagi perkara macet. Alat transportasi yang murah dan gampang ya pake motor. Lalu apa susah belajar motor untuk tuna rungu dan wicara? Wah enggak. Aku sih cuma butuh waktu beberapa bulan untuk belajar. Memang sih ada temanku yang kesulitan dan butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar. Bahkan sampai sekarang pun, ada banyak yang takut dan tidak berani mengendarai motor sendiri. Tapi jangan dikira gampang juga ya. Aku juga beberapa kali jatuh dari motor. Yang paling parah terjadi pas menjelang ujian paket C, waktu itu, aku ditabrak mobil karena tidak mendengar suara klakson mobil itu dari belakang. Untunglah akibatnya tidak parah, aku hanya lecet-lecet terserempet mobil. Coba kalo sampai patah kaki atau tangan, aku bakal menjadi penderita cacat ganda tiga, rungu, wicara, dan daksa. Orang tuaku pasti akan sedih sekali. Mungkin rasanya mati pun lebih baik dari pada tambah cacat lainnya. Untung juga lah ujianku berjalan lancar dan aku lulus. Apa aku punya ijin mengemudi? Tentu saja tidak. Jika ada razia, biasanya para polisi itu akan membiarkan saja jika mereka tahu aku cacat. Yah, pernah sih aku harus ikut sidang beberapa kali karena ketiadaan SIM, namun itu juga tidak menyurutkan niatku untuk tetap bermotor.

Aku boleh bersyukur dengan hidupku sekarang. Aku sudah lulus SMA di SLB B 4 tahun lalu. Setelah lulus, aku bekerja di salah satu perusahaan retail di kota ini di bagian gudang. Pekerjaanku tidak memerlukan keahlian berbicara dan mendengar. Aku hanya perlu mencocokan jumlah stok barang di gudang dengan kartu stok setiap hari. Aku juga harus membantu mengangkut barang yang keluar atau masuk di gudang ini. Selain aku, ada empat pekerja tuna wicara dan rungu lainnya yang bekerja di sini. Mereka semua adalah teman sekolahku dulu di SLB B. Meski tiap hari punggungku selalu pegal karena kecapekan memanggul barang, namun, aku bahagia mampu bekerja. Hasil kerja dan berhemat 4 tahun ini, aku sudah mampu membeli sebuah sepeda motor bekas yang selalu bersamaku ini. Pekerjaan ini membuatku mandiri dan mampu menyewa kos bersama teman-teman kerja yang juga teman sekolahku dulu di daerah Cicendo. Daerah itu lumayan jauh sih dari tempat kerjaku, namun aku sudah familiar dengan kawasan itu karena dekat SLB B. Aku juga aktif sebagai pengurus Gerkatin Jabar, yang memiliki kantor di salah  ruangan SLB B, sehingga, sewa kos dekat SLB B merupakan pilihan yang baik.

Ya, mungkin terlalu lama belajar di SLB B ini membuatku suka dengan tempat ini. Jika kalian bertemu denganku, kalian pasti tidak sadar kalau aku cacat. Penampilanku sama seperti orang-orang lainnya. Selain bahasa isyarat, aku juga menguasai bahasa bibir. Jadi bukan masalah untuk tahu apa yang orang bicarakan. Masalahku muncul saat aku mulai berbicara, aku tidak tahu apa yang keluar dari mulutku, tapi ekspresi orang-orang langsung berubah. Mereka menjadi lebih ramah, manis, penuh senyum, pengertian, dan baik sekali. Kadang kala, hal itu membuatku sedih. Mereka membuatku merasa berbeda. Meski sekarang sudah bukan masalah lagi. Dulu, pandangan baik orang-orang membuatku merasa minder dan terkucil. Aku ingin dianggap biasa-biasa saja, sama seperti orang-orang yang lainnya. Meskipun cukup terlambat, aku bersyukur ayahku  yang bekerja sebagai guru SD itu memasukkanku di sekolah khusus untuk tuna rungu di Bandung. Aku memulai sekolah pada usia 11 tahun. Sebelumnya, aku hanya tinggal di rumah, nonton TV, dan tidak melakukan apa pun.  Sejak aku sekolah, setiap pagi, dari rumah orang tuaku di Lembang, ibu mengantarkanku ke SLB B. Selain menggandeng tanganku, ibu juga menggendong beberapa hasil kebun milik kami dan tetangga untuk dijual di Bandung. Setelah mengantarku sekolah, ibu akan langsung ke Pasar Baru untuk menjual dagangannya. Pulang dari pasar, ibu akan menjemputku kembali di sekolah. Setelah lulus sekolah, aku memutuskan untuk bekerja dan hidup mandiri di Bandung. Aku masih punya dua adik perempuan da laki-laki yang duduk di bangku SMA dan SD. Untunglah keduanya normal, tidak cacat seperti aku. Meskipun tinggal terpisah, hampir tiap dua minggu sekali aku selalu mengunjungi orang tuaku di Lembang. Bahkan aku selalu bermotor sendiri pulang pergi.

Nah, sekarang, di sinilah aku, sudah setahun ini aku selalu berangkat dari kos setengah jam lebih awal dan menunggunya. Kamu boleh bilang aku menyedihkan, tapi memang aku menyedihkan. Aku harus menunggunya tiap pagi hanya untuk memegang lengannya dari belakang, menuntunnya, membaca bibirnya – sepertinya dia mengucapkan terima kasih-, dan melihatnya tersenyum sebelum kembali berjalan. Hal kecil dan sederhana itu pun membuatku bahagia sekali. Rasanya hariku indah. Bahkan jika tugas mengangkat beban di gudang nanti berat, itu bukan masalah lagi.

Nah, dia yang kutunggu sudah datang, dia berjalan dari  gang ini menuju jalan Cicendo. Sama seperti biasanya, dia sangat cantik sekali. Sama seperti biasanya, dia berjalan dengan tongkat di tangan kanan, tas hitam di pundak kiri. Kali ini dia memakai baju kuning dengan kerudung coklat muda dan celana panjang warna hitam. Aku selalu bingung bagaimana dia bisa memadupadankan warna dalam berpakaian. Aku pernah membaca novel dan tokoh-tokoh cewek di novel selalu memadupadankan warna baju yang mereka pakai sebelum keluar rumah. Berhenti melamun, aku segera bangkit dari atas motor yang kududuki dan bergegas ke arahnya. Aku tidak mau terlambat dan orang lain yang membantunya menyeberang. Sang ksatria harus beraksi. Meski sudah melakukannya ratusan kali selama hampir setahun ini, aku selalu tegang setiap kali akan meraih lengannya. Pelan-pelan, aku memegang lengan kanannya dengan tangan kiriku. Aku menggerakkan tangan kananku untuk meminta kendaraan lain berhenti sementara tangan kiriku mendorongnya maju. Demi untuk membantu menyeberangkannya, aku pernah minta diajari seorang relawan bagaimana caranya memandu tuna netra. Aku ingat dulu, saat pertama kali berniat membantunya, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah aku harus memegang tangannya? Tongkatnya? Pundaknya? Atau haruskah aku memberi instruksi untuk menyeberang? Tapi kan aku tidak bisa berbicara. Jadi waktu itu, aku hanya memegang ujung baju yang menutupi tangannya. Ya, waktu itu aku bodoh sekali. Dia pun sepertinya kaget ditarik tiba-tiba dan hampir menjerit. Untung saja dia segera tahu maksudku membantunya. Sampai di seberang, dia mencoba tersenyum dan berterima kasih. Sedangkan aku berkeringat dingin. Itu adalah hari ketika akhirnya aku mengikutinya dan tahu di mana dia berkerja.

Dengan kondisiku sebagai penderita cacat ganda, aku minder sekali dengan perempuan. Aku pernah  suka dengan perempuan normal dan berusaha mendekatinya. Namun, saat dia tahu aku tuna rungu dan wicara, dia menjadi baik sekali, manis, dan perhatian. Dia kasihan padaku. Apakah yang lebih menyedihkan dari dikasihani oleh orang disukai? Sejak itulah aku enggan berurusan dengan perempuan. Sampai akhirnya aku melihatnya.

Sempat, pada waktu menyeberang, angin bertiup cukup kencang dan menerbangkan bagian belakang jilbabnya. Saat itu jilbabnya tersingkap dan aku melihat rambutnya diikat. Rambutnya berombak sebahu dan diikat dengan karet. Waktu itu aku malu sekali. Kami kan bukan muhrim, apa tidak apa-apa jika aku melihat rambutnya? Apa aku harus merapikan jilbabnya agar rambutnya tertutup? Dilematis. Pada saat itulah, klakson motor dan mobil serentak mengagetkanku. Ada satu motor yang hampir saja menabrak kami. Ternyata pada waktu itu kami masih di tengah jalan dan banyak kendaraan macet karena kami berhenti di tengah jalan. Dia bergerak resah di sebelahku, mulutnya mengatakan sesuatu, namun aku tak tahu apa yang dia katakan. Bergegas, aku tarik dia dari tengah jalan. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih seperti biasanya. Tahukah dia, bahwa baru saja maut begitu dekat dengan kami. Kegiatan memandangi rambut perempuan saat menyebarang itu ternyata ngga baik untuk kesehatan. Bahkan bisa menyebabkan kematian.

Pernah pula, ada kegiatan hiburan yang diadakan oleh sebuah LSM untuk komunitas difabel. Semua komunitas difabel di kota ini diundang. Saat itu, aku pun datang mewakili Gerkatin. Sebagai pengurus Gerkatin, aku selalu aktif dalam kegiatan semacam ini, terutama yang berhubungan dengan komunitas lain, relawan, atau komunitas tuli dari daerah lainnya. Bahkan, berkat pertemanan dengan komunitas tuli daerah lainnya, aku pun belajar bahasa isyarat daerah lain. Orang mungkin berfikir bahasa isyarat hanya satu, namun bahasa isyarat itu berlainan tiap wilayah. Sama seperti bahasa daerah normal lainnya. Ada bahasa Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Madura, dan lainnya. Untuk bahasa isyarat, sayangnya aku hanya menguasai bahasa isyarat Sunda dan sedikit Jawa.

Salah satu kegiatan yang akan dilakukan LSM itu ialah pemutaran film. Semua wakil komunitas difabel di Bandung datang. Aku juga melihatnya di sana. Duduk di deretan bangku ketiga dari depan. Tekun mendengarkan film dengan dibantu relawan di sisinya yang membisiki jalan cerita filmnya. Untunglah aturan tempat duduk yang ditetapkan di awal sudah tidak berlaku. Saat itu, aku duduk di sebelahnya, dia berbicara dengan relawan pembisik di sebelahnya. Aku tidak tahu apa yang mereka katakan, namun dia tertawa-tawa. Wajah mereka bahagia sekali. Sepanjang film, aku hanya duduk dan sesekali memandangnya. Beberapa kali, tatapan mataku tertuju pada relawan pembisik di sebelahnya. Aku malu sekali. Semoga pada suasana agak gelap ini, dia tidak tahu apa yang kulakukan. Relawan pembisik itu bahkan tersenyum jail padaku. Di akhir film, karena si relawan pembisik terus melihatku, sepertinya dia curiga padaku, aku pun segera pergi dari tempat itu.

Aku pikir, setelah malam itu, aku masih akan punya waktu untuk bertemu lagi dengannya. Minimal, aku  akan tetap membantunya menyeberang seperti biasanya. Namun sudah beberapa hari aku tak melihatnya. Dia menghilang. Aku sudah menunggu selama tiga hari. Biasanya, dia tidak pernah absen secara berturut-turut dari Senin-Rabu. Aku bertekad, jika dia tidak datang hari ini, aku akan mencarinya. Aku khawatir apakah dia sakit. Atau kecelakaan. Apakah dia punya teman yang bisa membantunya. Waktu itu, aku sudah menunggu lewat setangah jam. Tiga hari ini aku selalu menunggu satu jam lebih lama dari biasanya. Aku takut jika dia terlambat berangkat kerja dan terburu-buru menyeberang namun tidak ada yang membantu. Hasilnya, dia tidak datang dan gajiku terancam dipotong karena beberapa hari terlambat kerja.

Aku sudah bersiap untuk menuju motorku saat aku melihatnya, tertatih-tatih berjalan dari dalam gang. Kali ini, dia mengenakan baju warna pink, kerudung pink, dan celana hitam. Dia berjalan dengan tongkat di tangan kanan dan tas di pundak kiri. Seperti biasa, dia berhenti tepat di pinggir jalan besar. Seperti biasa pula, aku berlari ke arahnya. Memegang lengan kanannya dengan tangan kiriku dan merentangkan tangan kananku untuk memberi instruksi pada kendaraan yang lewat bahwa kami akan menyeberang. Waktu itu aku bahagia sekali. Dipotong gaji pun aku rela asal bisa begini terus setiap pagi. Tapi meski bahagia, aku akan tetap hati-hati kok. Aku tidak akan membiarkannya tertabrak cuma karena kekonyolanku.

Sampai di seberang, bukannya tersenyum dan berlalu pergi, setelah bilang terima kasih, dia meraih tanganku. Dengan gerakan tangannya, dia memintaku untuk berdiri di depannya. Dia masih memegang tanganku. Perlahan-lahan, dia membuka mulutnya, dan aku mulai membaca, “Terima kasih banyak selama ini sudah membantuku. Apakah yang kemarin nonton film itu kamu? Oh, begitu. Aku akan pindah. Kontrakku setahun untuk bekerja di Bandung sudah selesai dan besok aku akan pindah ke Bogor. Ini aku bukan berniat kerja lagi, tapi berpamitan.” Saat itulah, rasanya duniaku runtuh. Aku melepaskan tangannya dan berharap tadi kami berdua tertabrak mobil/motor saja dari pada berpisah semacam ini. Dia menarik tanganku sekaligus diriku dari lamunan. Pelan-pelan, dia meraba tanganku, lalu naik dan meraba wajahku, dan rambutku. Seorang relawan pernah memberitahuku, jika seorang tuna netra melakukan itu, artinya mereka ingin tahu seseorang dengan lebih baik lagi. Mau tahu lebih baik tapi besok dia pergi? Aku melihat bibirnya bergerak mengatakan sesuatu, namun aku sudah tidak dapat berfikir lagi untuk membaca apa yang dia katakan. Saat itu yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana agar aku tahu namanya, nomor hape, dan alamat barunya di Bogor. Aku berusaha untuk mengeluarkan banyak kata-kata dari dalam mulutku agar dia mengerti maksudku. Tapi dia malah tersenyum. Apakah dia tahu bahwa aku hampir menangis berusaha untuk menanyakan namanya? Bagaimana dia suka dipanggil? Di tengah keputusasaan, aku benar-benar mengeluarkan air mata. Itu adalah saat pertama kalinya aku mengutuk Tuhan kenapa aku dilahirkan tuli dan tidak mampu bicara. Aku sangat berharap akan datang keajaiban seperti di film-film, ketika tiba-tiba tokoh utama mendapatkan kembali kemampuannya berbicara. Walaupun dalam kasusku, kemampuan berbicara memang tidak pernah kumiliki. Entah seberapa keras aku berusaha, dia tidak memahami apa maksudku. Dia malah tersenyum, menepuk-nepuk tanganku. Aku ingin menjerit. Namun percuma, dia tidak akan paham jeritanku. Jika aku menulis pun, dia tidak akan dapat membacanya. Aku sudah benar-benar menangis saat dia melepas tangannya dan berlalu dengan tongkatnya. 

Lama, aku masih memandangi arah ia pergi. Bahkan saat ia telah beberapa waktu menghilang berbelok di perempatan. Saat itu, kesadaranku timbul dan kakiku mulai melangkah lagi untuk menuju motorku. Sebelum aku sempat berjalan menyeberang terlalu jauh, seseorang siswi sekolah  berseragam pramuka tiba-tiba memegang tanganku dan menggumamkan kata-kata semacam ‘hati-hati menyeberang’ atau entah apa dan menuntunku menyeberang kembali menuju tempat motorku terparkir. Besok, rasanya tidak akan sama lagi.


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #bluevalley bersama Jia Effendie.



Keterangan : 
* Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) ialah organisasi yang memperjuangkan kesempatan yang sama bagi tuna rungu dalam semua aspek kehidupan dan penghidupan. 
Sekretariat Gerkatin Jawa Barat menempati salah satu bangunan yang menyatu dengan SLB B di Jalan Cicendo, Bandung.

* Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna merupakan pelaksana teknis Kementrian Sosial yang bertujuan mewujudkan kesetaraan dna kemandirian penyandang cacat netra. Panti Sosial Bina Netra Wiyata Guna menyatu dengan SLB A. Tempat ini menyediakan pelatihan keahlian khusus seperti musik, pijat, dan lainnya. Para murid biasanya diberi kesempatan praktek kerja setahun sebelum akhirnya dilepas untuk hidup mandiri dalam masyarakat. Panti Sosial Bina Netra berada di Jl. Pajajaran 52 Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar